UGM tingkatkan kapabilitas jurnalis dukung pencegahan stunting di NTB

Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar peningkatan kapabilitas jurnalis dan peran media lokal dalam rangka mempercepat penanganan kasus stunting di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Kegiatan ini untuk meningkatkan peran media dan jurnalis dalam upaya penanganan stunting, terutama yang menyangkut aspek informasi, komunikasi, dan pengetahuan publik," kata Ketua Tim Peneliti UGM, Prof Dr Phil Hermin Indah Wahyuni di Mataram, Kamis.

Ia mengatakan sejak 2021, Universitas Gadjah Mada menjalankan program penelitian dan pengabdian bertajuk Comprehensive and Integrated Action (CINTA) untuk penanganan stunting berbasis potensi lokal di NTB dan NTT. Program ini merupakan multidisiplin yang dilaksanakan oleh para peneliti UGM pada bidang kesehatan, pertanian dan pengolahan pangan.

Baca juga: BKKBN: NTB jadi provinsi uji coba BKB Emas percepat turunkan stunting

Baca juga: NTB optimalkan posyandu keluarga turunkan angka stunting

"Hal ini tak lepas dari salah satu temuan kajian tahun pertama yang menunjukkan bahwa literasi kesehatan menjadi poin signifikan," katanya.

Ia mengatakan persoalan komunikasi dan bermedia menjadi satu aspek penting dalam penyelesaian problem-problem kesehatan publik, tidak terkecuali stunting yang merupakan isu serius di Indonesia dan beberapa wilayah, seperti NTT dan NTB.

"Jaringan komunikasi yang perlu dioptimalkan dan peningkatan peran media lokal serta komunitas juga merupakan dua fokus perhatian dari tim di klaster ini," katanya.

Program CINTA NTT dan NTB secara umum berfokus pada upaya penurunan angka stunting dengan pendekatan lima pilar aksi dan tujuan penguatan komitmen dan visi kepemimpinan pada Pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten/Kota, dan Pemerintah Desa.

"Peningkatan komunikasi perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat," katanya.

Baca juga: NTB luncurkan LiLA Keluarga untuk cegah balita wasting

Selain itu, kegiatan bertujuan untuk meningkatkan konvergensi intervensi spesifik dan intervensi sensitif, peningkatan ketahanan pangan dan gizi pada tingkat individu, keluarga, dan masyarakat , serta penguatan dan pengembangan sistem, data, informasi, riset, dan inovasi.

Ia mengatakan secara khusus, klaster komunikasi dan media akan berupaya memetakan proses komunikasi yang terjadi di lapangan terkait isu stunting, termasuk mengidentifikasi apakah stunting menjadi isu yang relevan di masyarakat dan muncul dalam pembicaraan masyarakat dan pemerintah daerah.

"Selain itu, respons terhadap isu stunting juga dipetakan dalam upaya menemukan pesan kunci, sehingga proses penangan stunting dapat tercapai," katanya.