Uhamka fasilitasi dosen dan tenaga pendidik ke Muktamar Muhammadiyah

Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka) siap memfasilitasi dosen dan tenaga kependidikan untuk menghadiri muktamar Muhammadiyah di Solo, Jawa Tengah.

Sekretaris Uhamka Emaridial Ulza dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat, mengatakan bahwa dosen dan tenaga kependidikan yang berjumlah hampir 900 orang akan ikut serta menyukseskan perhelatan penting Muhammadiyah pada November 2022 mendatang.

"Arahan Rektor, Uhamka harus menggembirakan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah di Solo," katanya.

Rektor Uhamka Prof. Gunawan Suryoputro menyakini Muktamar ini akan berjalan dengan tertib dan sukses serta menghasilkan keputusan-keputusan penting bagi kemajuan dan memberikan kebermanfaatan bagi persyarikatan Muhammadiyah, masyarakat Indonesia, dan dunia.

Baca juga: Panitia presentasikan agenda Muktamar Muhammadiyah di Karanganyar

Baca juga: Muhammadiyah gelar "Muhammadiyah Talk" jelang Muktamar Ke-48

Muktamar Muhammadiyah akan diselenggarakan pada 18-20 November 2022 di Solo, Jawa Tengah, dengan tema "Memajukan Bangsa Indonesia, Mencerahkan Semesta".

Secara terpisah, Tim Asistensi Panitia Pusat Muktamar Herman Dodi Isdarmadi menambahkan akan ada keterlibatan UMKM pada penyelenggaraan acara muktamar tersebut.

"Dalam penyelenggaraan Muktamar Fair nanti, panitia akan menyediakan tempat khusus bagi UMKM Colomadu," katanya.

Sementara itu, Bupati Karanganyar Juliyatmono memperkirakan selama kegiatan muktamar tersebut daerah Karanganyar akan menjadi wilayah luberan penggembira muktamar mengingat wilayah Kota Solo yang tidak begitu luas.

Ia meminta ada satu pintu informasi yang menjembatani panitia muktamar dengan Pemkab Karanganyar untuk mendukung pelaksanaan muktamar.

"Supaya kami bisa berkoordinasi agar tertata dengan baik sehingga ada panduan. Misalnya, 'o ini ada rombongan ke Ngargoyoso, kita antarkan ke Ngargoyoso dengan baik'," katanya.*

Baca juga: Pemilihan Ketua PP Muhammadiyah bakal gunakan e-voting

Baca juga: Menko PMK: Indonesia perlu belajar pada Muhammadiyah