Uji coba kerja 4 hari seminggu tunjukkan peningkatan kesejahteraan dan produktivitas pekerja

Baru-baru ini, beberapa perusahaan yang telah menguji coba kerja empat hari seminggu telah melaporkan adanya peningkatan pendapatan, dengan lebih sedikit karyawan yang mengambil cuti atau mengundurkan diri. Meskipun efek minggu bekerja yang lebih singkat pada kesejahteraan pekerja mudah dipahami, pengaruh positifnya pada pendapatan dan produktivitas perusahaan mungkin lebih mengejutkan – tetapi penelitian mendukung hal ini.

Perusahaan-perusahaan ini telah berpartisipasi dalam uji coba yang diselenggarakan oleh nirlaba 4 Day Week Global. Uji coba empat hari kerja dalam seminggu, yang melibatkan 33 perusahaan dan hampir 1.000 karyawan, tidak menemukan hilangnya gaji karyawan – organisasi membayar 100% dari gaji untuk 80% dari waktu mereka. Selama minggu kerja yang lebih pendek ini, karyawan juga berjanji untuk bekerja 100%.

Strategi seperti ini tidak hanya dilakukan pada pekerjaan kantoran. Antara tahun 2015 dan 2019, Islandia menguji pengurangan jam kerja dalam skema yang mencakup rumah sakit, sekolah, dan pekerja layanan sosial. Islandia menganggap pengujian ini sebagai “kesuksesan luar biasa. Pengurangan jam kerja – tanpa pengurangan gaji – telah ditetapkan pada 86% tenaga kerja di Islandia.

Sepanjang sejarah, pola kerja kita telah beradaptasi dengan tantangan setiap masanya: baik lebih banyak waktu bekerja di alat tenun industri, maupun seorang petani yang mengubah jam kerjanya untuk meningkatkan produktivitas selama waktu siang hari yang lebih singkat. Namun, saat ini, hampir satu abad berlalu sejak Henry Ford memperkenalkan "akhir pekan” selama dua hari ke pabriknya, banyak negara masih terjebak dengan pembagian 40 jam seminggu dalam lima hari kerja, terlepas dari industrinya. Cara kerja seperti ini semakin bertentangan dengan gaya hidup kita di abad ke-21 ini.

Temuan terbaru dari percontohan 4-Day Week Global ini sejalan dengan penelitian berkelanjutan terhadap pola kerja yang menunjukkan bahwa pengurangan jam kerja meningkatkan kesehatan mental dan produktivitas karyawan. Selain itu, pola kerja ini juga membawa manfaat lain, seperti mengurangi emisi dengan mengurangi perjalanan dan memberikan dasar untuk mengevaluasi hidup kita lebih dari sekadar sisi keuangan.

Kesehatan mental yang lebih baik

Terlepas dari pertumbuhan ekonomi yang pesat sejak tahun 1970-an, sangat sedikit kemajuan yang dicapai dalam menyediakan waktu luang bagi para pekerja. Bahkan, dalam beberapa kasus, tren ini mulai terbalik: misalnya, orang-orang di Amerika saat ini menghabiskan lebih banyak waktu untuk bekerja daripada tahun 2000.

Hal ini mulai berdampak buruk pada kesejahteraan dan kesehatan mental karyawan. Dibandingkan dengan masa sebelumnya, menjadi jauh lebih produktif selama satu abad ini berarti otak manusia diminta untuk memproses lebih banyak hal dalam satu minggu dengan lima hari kerja. Hal ini menyebabkan peningkatan stres, kecemasan, dan kelelahan yang signifikan.

Hal ini tentunya memengaruhi layanan kesehatan nasional dan keluarga. Namun, pemberi kerja juga menanggung biayanya: firma akuntansi Deloitte memperkirakan biaya tahunan yang dikeluarkan oleh pemberi kerja untuk masalah kesehatan mental adalah £45 miliar (Rp853 miliar), hanya di Inggris. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh absenteeism (ketidakhadiran) atau, yang lebih buruk, “presenteeism” – di mana seseorang secara fisik hadir di tempat kerja tetapi tidak terlibat dalam pekerjaan karena sakit.

Kantor Statistik Nasional Inggris memperkirakan bahwa ada 17 juta hari kerja yang hilang akibat stres, depresi, atau kecemasan di Inggris pada 2021-22. Tren yang sama muncul di sebagian besar negara kaya lainnya.

Peningkatan produktivitas

Tentu saja, para petinggi perusahaan mungkin berpikir: “Jika karyawan saya bekerja 20% lebih sedikit, pastinya hasil pekerjaan juga akan turun?”

Namun, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa ini bukanlah masalahnya. Faktanya, negara-negara dengan jam kerja paling sedikit sering kali menjadi yang paling produktif setiap jamnya. Selain itu, negara-negara ini, seperti Denmark, Norwegia, dan Belanda, adalah negara-negara paling bahagia. Dibandingkan dengan rata-rata Amerika Serikat dan Inggris sekitar 1.800 jam, semua bekerja rata-rata kurang dari 1.400 jam setahun di negara-negara tersebut.

Bekerja sama dengan British Telecom, penelitian saya membantu menjelaskan mengapa bekerja lebih sedikit tidak selalu berakhir dengan kehilangan hasil kerja. Kami dapat menunjukkan efek positif dengan merasa lebih baik selama seminggu pada produktivitas mingguan. Kami menemukan bahwa saat para pekerja merasa senang, terbukti bahwa terdapat lebih banyak penjualan dan lebih banyak panggilan per jam.

Berdasarkan penelitian kami, kami yakin perubahan pada keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan dan peningkatan kesejahteraan yang dihasilkan dari uji coba 4 Hari Minggu dapat menyebabkan peningkatan produktivitas sekitar 10%.

Tentu saja, peningkatan 10% dalam produktivitas individu tidak akan segera menggantikan karyawan yang bekerja sehari lebih sedikit. Namun, peningkatan produktivitas ini akan mengurangi biaya transisi ke minggu kerja yang lebih singkat. Artinya, mungkin masih ada kebutuhan untuk investasi dan subsidi dari pemerintah dan bisnis untuk mendukung perubahan ini, tetapi manusia dan Bumi mendapatkan banyak keuntungan dari sistem ini.