Uji Coba Layanan Internet dari SpaceX Mulai Bergulir, Berapa Tarifnya?

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Layanan internet Starlink dari SpaceX ternyata sudah mulai memasuki tahap uji coba. Informasi itu diketahui dari email yang diterima sejumlah orang yang menyatakan tertarik berlangganan layanan berbasis internet ini.

Dikutip dari Business Insider, Sabtu (31/10/2020), dalam email itu SpaceX juga menyertakan biaya berlangganan yang akan dibebankan pada pengguna apabila tertarik memakai layanan internet Starlink.

Lewat paket berlangganan yang dikenal dengan nama 'Better Than Nothing Beta', SpaceX mematok biaya berlangganan USD 99 (Rp 1,4 juta) per bulan.

Biaya itu belum termasuk peralatan tambahan, seperti router, mounting tripod, dan terminal untuk terhubung dengan satelit seharga USD 499 (Rp 7,2 juta).

Uniknya, dengan paket yang ditawarkan, SpaceX sepertinya sengaja mengingatkan pengguna tentang layanan yang mereka hadirkan memang belum sesuai ekspektasi.

"Seperti nama paketnya, kami memang berupaya untuk menurukan ekspektasi awal anda," tutur perusahaan yang dipimpin oleh Elon Musk tersebut.

Adapun kecepatan yang ditawarkan nantinya akan bervariasi mulai dari 50Mb/detik hingga 150Mb/detik, dengan latency dari 20ms hingga 40ms selama beberapa bulan ke depan seiring peningkatan sistem Starlink.

"Ada pula masanya tidak ada konektivitas sama sekali," tulis perusahaan lebih lanjut. Sebagai bagian dari layanan, SpaceX juga meluncurkan aplikasi Starlink di Play Store dan App Store.

Saat ini, ada hampir 900 satelit Starlink yang ada di orbit Bumi. Jumlah satelit itu disebut sebagai bagian dari perusahaan untuk menghadirkan internet berkecepatan tinggi yang menjangkau seluruh Bumi.

SpaceX Sukses Luncurkan 60 Satelit Internet Cepat Starlink ke Orbit

Roket Falcon 9 lepas landas dari Space Launch Complex 40 di Florida's Cape Canaveral Air Force Station, Amerika Serikat, Kamis (23/5/2019). SpaceX meluncurkan satelit Starlink ke orbit setelah batal melakukannya pada minggu lalu lantaran gangguan angin kencang. (AP Foto John Raoux)
Roket Falcon 9 lepas landas dari Space Launch Complex 40 di Florida's Cape Canaveral Air Force Station, Amerika Serikat, Kamis (23/5/2019). SpaceX meluncurkan satelit Starlink ke orbit setelah batal melakukannya pada minggu lalu lantaran gangguan angin kencang. (AP Foto John Raoux)

Sebelumnya, SpaceX kembali sukses meluncurkan sejumlah satelit Internet Starlink ke Orbit pada 24 Oktober 2020 waktu Amerika Serikat (AS) dengan roket Falcon 9.

Keberhasilan ini menandai pencapaian SpaceX yang telah sukses meluncurkan satelit Internet cepat Starlink ke orbit sebanyak 100 kali menggunakan roket besutannya.

Mengutip lama SpaceNews, Senin (26/10/2020), peluncuran dengan roket Falcon 9 dilakukan di Space Launch Complex 40 di Cape Canaveral Air Force Station.

Roket ini berisikan muatan sebanyak 60 satelit Starlink dan meluncur ke Orbit dalam waktu 63 menit setelah lepas landas.

Dengan demikian, sepanjang peluncuran satelit Starlink ke orbit, SpaceX telah meluncurkan 95 kali Falcon 9, tiga kali Falcon Heavy, dan dua kali Falcon 1.

Perjalanan peluncuran satelit Starlink tak melulu sukses, ada kalanya SpaceX gagal dalam misinya. Misalnya kegagalan peluncuran Falcon 1 dan Falcon 9 beberapa waktu lalu. Bahkan ada roket Falcon 9 yang sengaja dihancurkan pada 2016, ketika persiapan tes static-fire.

Peluncuran ini merupakan misi Starlink ketiga dalam kurun waktu dua minggu terakhir. Sebelumnya Falcon 9 sempat diluncurkan 6 dan 18 Oktober. Masing-masing membawa 60 Starlink ke orbit.

895 Satelit Starlink Telah Diluncurkan

SpaceX secara keseluruhan sudah meluncurkan 895 satelit Starlink, di mana 55 di antaranya kembali karena mengalami deorbit.

Perusahaan roket milik Elon Musk ini menyebut, pihaknya telah mempromosikan keandalan internet cepat Starlink kepada FCC. Bahkan, SpaceX telah mengajukan pertemuan antara perusahaan dan FCC.

Kepada FCC, SpaceX melaporkan sudah ada 300 satelit yang sukses dioperasikan tanpa ada kegagalan. Kendati demikian, ada juga satelit yang gagal ketika diuji.

Menurut pengamat satelit, salah satu satelit yang diluncurkan pada 18 Oktober 2020, yakni Starlink-1819 tidak bisa naik ke orbit, menyusul 59 satelit lainnya. Berdasarkan pelacakan yang dilakukan, orbit satelit itu mengalami decaying dan menunjukkan malfungsi.

(Dam/Ysl)