Ukiran Batu 2.700 Tahun Ungkap Kisah Kota Kuno Terbesar yang Pernah Ada

Merdeka.com - Merdeka.com - Tim arkeolog di Irak menemukan ukiran batu kuno yang menjadi petunjuk tentang bagaimana kehidupan orang Assyria di Nineveh, kota kuno terbesar dan paling maju di dunia. Temuan ini mengungkap kisah kehidupan orang-orang yang tinggal di salah satu kota paling berpengaruh dalam peradaban.

Nineveh menjadi kota paling penting dalam peradaban Mesopotamia yang mencakup wilayah yang sekarang adalah Irak dan sebagian Turki pada abad ke-14 hingga ke-7 sebelum Masehi. Kota kuno itu masih ada di Mosul, sebelah utara Irak, di sisi timur Sungai Tigris. Selama sekian dasawarsa kota itu menjadi ibu kota dan kota terbesar di Kerajaan Assyria Baru dan juga kota terbesar di dunia.

Tapi masih banyak yang belum diketahui.

Arkeologi modern tidak banyak menemukan bangunan besar dan konteks apa di balik bangunan itu. Temuan ukiran pada batu tersebut dinilai mampu mengungkap apa yang selama ini ingin diketahui arkeolog.

Ukiran batu berusia 2.700 tahun itu menggambarkan bagaimana taktik militer bangsa Assyria, hutan, raja, dan pengadilan, pegunungan, peristiwa perang.

"Temuan ini memperkaya data dan pemahaman terhadap sejarah Assyria Baru di Mesopotamia kuno. Kami takjub dengan konservasi dari temuan bersejarah dan langka ini," kata Direktur Museum Penn, Christopher Woods kepada The Daily Pennsylvanian, seperti dikutip ZME Science, Selasa (10/1).

Arkeolog menemukan tujuh lapisan marmer yang memuat ukiran batu tersebut. Benda-benda itu ditemukan di gerbang Mashki, sebuah monumen bersejarah yang hampir dirusak oleh kelompok militan ISIS ketika menyerang Mosul pada 2016.

Sejarah Nineveh dimulai dari dewi perang dan cinta Mesopotamia, Ishtar. Antara 6.000-3000 sebelum Masehi, Nineveh adalah tempat yang cukup penting untuk menyembah Ishtar dan bahkan dijuluki "Rumah Ishtar". Diyakini sekitar 1813 sebelum Masehi, bangsa Assyria mulai berkuasa di kota itu dan raja Assyria baru (912-612 sebelum Masehi) menjadikan kota itu pusat perdagangan.

Di masa kekuasaan Raja Sennacherib, kota itu dinyatakan sebagai ibu kota kerajaan Assyria. Untuk menjaga dari serangan musuh, Sennacherib membangun tembok di sekeliling kota sepanjang puluhan kilometer. Dia juga membangun kuil, monumen, gerbang utama, dan istana.

Selama sekitar lima dasawarsa, kota itu menjadi yang terbesar dan paling spektakuler di dunia. Selain menjadi kota pusat agama dan budaya Mesopotamia, kota itu juga menjadi pusat ekonomi. [pan]