Ukraina dalam Bahaya Diserang Rusia, Amerika Malah Batal Kirim Bantuan

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Aktivitas armada tempur Angkatan Bersenjata Federasi Rusia di perbatasan Ukraina kian meningkat. Badan Intelijen Kementerian Pertahanan Ukraina memastikan bahwa militer Rusia sudah mengirim 110 ribu prajuritnya ke perbatasan timur kedua negara.

Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) yang merupakan sekutu Ukraina di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), semula berniat untuk mengerahkan dua unit kapal perangnya ke Laut Hitam. Perlu diketahui, Laut Hitam ada di sebelah selatan Ukraina dan sebelah barat Rusia.

Rumor bahwa Angkatan Laut AS (US Navy) akan mengirim armada tempurnya itu merebak sejak sepekan lalu. Disebutkan bahwa rencana Angkatan Laut AS mengirim kapal perangnya ke Laut Hitan lantaran mendapat informasi bahwa Angkatan Laut Rusia (VMF), sudah lebih dulu mengirim 10 unit kapal perangnya.

Tak hanya itu, militer AS menerima kabar juga bahwa militer Rusia sudah mulai membangun basis pertahanan di Laut Hitam, dekat dengan wilayah Ukraina.

Beberapa hari kemudian, giliran militer Rusia yang mendapatkan kabar bahwa AS akan mengirim dua kapal perangnya. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, dengan tegas memperingatkan AS agar membatalkan niatnya itu.

Pengerahan armada tempur ke Laut Hitam menurut Ryabkov adalah bentuk provokasi. Jika dua kapal perang AS itu sampai masuk ke Laut Hitam, maka sama saja dengan ingin menantang kekuatan militer Rusia.

"Sama sekali tidak akan ada yang bisa dilakukan oleh kapal Amerika di dekat pantai kami. Ini murni tindakan provokatif. Provokatif dalam arti kata langsung, mereka menguji kekuatan kami. Mereka tidak akan berhasil," tegas Ryabkov dikutip VIVA Militer dari Daily Sabbah.

"Kami memperingatkan Amerika Serikat bahwa lebih baik menjauh dari Krimea dan wilayah pesisir kami di Laut Hitam. Itu demi kebaikan mereka sendiri," katanya.

Di sisi lain, Turki yang juga merupakan anggota NATO justru mengungkap bahwa Amerika batal mengirim kapal perangnya. Kabar ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu.

Pasca pernyataan Cavusoglu, Departemen Pertahanan AS malah tak mau berkomentar. Pihak Pentagon menyatakan pengiriman dua kapal perang belum mendapat persetujuan dan belum bisa dikonfirmasi kepastiannya.