Ukraina Tetapkan 600 Lebih Orang Rusia sebagai Tersangka Kejahatan Perang

Merdeka.com - Merdeka.com - Ukraina menetapkan lebih dari 600 orang Rusia sebagai tersangka kejahatan perang dan sekitar 80 tersangka mulai menjalani penuntutan. Ratusan orang ini terdiri dari petinggi militer, politikus, dan agen propaganda Rusia. Demikian disampaikan Jaksa Penuntut Umum, Iryna Venediktova dalam konferensi pers di Den Haag, Belanda pada Selasa.

"200 sampai 300 kasus baru kejahatan perang ditambahkan setiap hari," kata Venediktova, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (1/6).

Venediktova mengatakan, Estonia, Latvia, dan Slovakia memutuskan terlibat dalam tim penyelidikan internasional di Ukraina, yang awalnya dibentuk Ukraina, Lithuania, dan Polandia pada Maret lalu. Tim penyelidikan dibentuk untuk mempermudah pertukaran informasi dan penyelidikan tersangka kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Tim ini bekerja sama dengan Mahkamah Internasional (ICC), yang juga meluncurkan penyelidikan terkait kemungkinan kejahatan perang di Ukraina pada awal Maret.

Venediktova menyampaikan, dukungan internasional sangat penting untuk membantu Ukraina dalam proses penyelidikan ini. Dia juga menambahkan, Ukraina menemukan ribuan dugaan kejahatan perang di wilayah Donbas, Ukraina timur, yang dikuasai pasukan Rusia.

"Jika kita berbicara soal kejahatan perang, itu terkait kemungkinan memindahkan orang, kami mulai beberapa kasus terkait kemungkinan pemindahan anak-anak, orang dewasa ke berbagai wilayah Federasi Rusia," jelasnya.

"Kemudian, tentu saja, kita bisa berbicara soal menyiksa orang, membunuh warga sipil dan menghancurkan infrastruktur sipil."

Venediktova mengatakan, otoritas Ukraina tidak memiliki akses ke Donbas, tapi mereka mewawancarai warga sipil yang melarikan diri dan tawanan perang. Bukti dan pernyataan saksi saat ini diamankan di pusat basis data di lembaga pengadilan Uni Eropa atau Eurojust.

Secara keseluruhan, Ukraina mengidentifikasi 15.000 kasus kejahatan perang di seluruh negeri sejak invasi Rusia.

Rusia membantah menargetkan warga sipil atau terlibat dalam kejahatan perang di Ukraina. Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari lalu dan menyebutnya sebagai "operasi militer khusus". [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel