Ukuran Otak Jadi Petunjuk Risiko Alzheimer

Ghiboo.com - Otak merupakan bagian vital dalam tubuh seseorang. Ukuran otak ternyata berhubungan dengan penyakit alzheimer. Menurut peneliti, seseorang yang memiliki ukuran otak lebih kecil berisiko mengalami penyakit ini.


Penyakit alzheimer memang bukanlah penyakit menular dan gejalanya sulit dikenali sejak dini. Orang sehat yang memiliki bagian lebih kecil di korteks otak lebih berisiko mengalami gejala-gejala awal alzheimer.


Peneliti di Massachussetts General Hospital di Boston, Amerika, menganalisis scan otak pada 159 sukarelawan yang terbebas dari penyakit dementia untuk mengukur ketebalan bagian korteks otak.


Bagian tersebut dipilih karena sebelumnya diketahui mengalami penyusutan pada orang-orang yang mengidap alzheimer.


Para peneliti menemukan bahwa 19 dari 159 sukarelawan yang memiliki bagian yang lebih kecil di korteks, dianggap berisiko tinggi mengembangkan gejala awal Alzheimer.


Peneliti juga menemukan 116 pasien diklasifikasikan memiliki risiko menengah dan 24 lainnya tidak berisiko.


Setelah 3 tahun penelitian, 21 persen sukarelawan yang berada di grup berisiko tinggi menunjukkan tanda-tanda kemunduran kognitif, dibandingkan dengan 7 persen dari sukarelawan yang berada pada risiko sedang dan tidak seorangpun berada pada risiko rendah.


"Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui bagaimana menggunakan scan MRI dapat mengukur perbedaan ukuran daerah otak dengan mengombinasikan tes lain yang membantu mengidentifikasi orang yang berisiko besar mengalami alzheimer sejak dini," ungkap Bradford Dickerson, MD dari Massachusetts General Hospital, Boston.


Penelitian ini juga menemukan 60 persen dari grup yang dianggap paling berisiko untuk penyakit Alzheimer, memiliki tingkat tinggi protein aminoid dalam cairan cerebrospinal, yang merupakan penanda untuk penyakit ini, dibandingkan dengan 36 persen dari mereka yang berisiko sedang dan 19 persen dari mereka yang berisiko rendah.



(Berbagai Sumber)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.