Ulama Irak Sadr minta pengikutnya buka blokade setelah PM baru ditunjuk

Oleh Aziz El Yaakoubi dan Nadine Awadalla

Baghdad (Reuters) - Ulama populer Irak Moqtada al-Sadr pada Minggu (2/2) mengimbau para pengikutnya untuk membantu pasukan keamanan membuka jalanan, yang diblokade selama protes dengan pendudukan. Ia meminta agar semua pihak kembali ke kehidupan normal setelah perdana menteri baru ditunjuk.

Sadr, yang telah bergantian berpihak kepada para pemrotes antipemerintah dan kelompok-kelompok politik dukungan Iran yang mereka tolak, meminta para pendukungnya yang bersenjata dan dikenal sebagai "topi biru" untuk bekerja sama dengan pihak berwenang dalam memastikan sekolah-sekolah dan toko-toko bisa beroperasi lagi secara normal.

Serangkaian protes langsung muncul di Baghdad dan beberapa kota di selatan pada Sabtu (1/2) malam setelah Presiden Barham Salih menunjuk Mohammed Tawfiq Allawi sebagai perdana menteri dalam upaya untuk mengakhiri kerusuhan politik.

Pada Minggu, ribuan orang berkumpul di Lapangan Tahrir di Baghdad, tempat kamp protes di ibu kota itu berada, untuk menentang langkah tersebut. Mereka memukul sejumlah genderang dan berteriak-teriak menolak Allawi dan Sadr dengan mengatakan "Allawi tidak diterima, partainya juga".

Dalam pesan yang dikeluarkan di Twitter, Sadr mengatakan "Saya menyarankan kepada pasukan keamanan untuk menghentikan siapa pun yang menghadang jalanan dan kementerian pendidikan harus menghukum orang-orang yang menghalangi jam kerja, tidak peduli apakah mereka mahasiswa, guru, dan lainnya".

Beberapa pengikutnya tampak sudah membantu membersihkan titik-titik demonstrasi di Lapangan Tahrir semalaman, kata wartawan Reuters.

Beberapa jam sebelum Allawi ditunjuk sebagai perdana menteri, massa topi biru bersenjatakan tongkat, menyerang sebuah gedung di Lapangan Tahrir, yang dikenal sebagai Restoran Turki, yang diduduki para demonstran sejak Oktober.

Protes antipemerintah berlanjut di daerah sekitarnya. Para pengunjuk rasa melimpahkan kemarahan mereka pada Allawi, yang ditunjuk pada Sabtu sebagai bagian dari kesepakatan antara Sadr dan beberapa kelompok politik Iran. Kelompok-kelompok itu berseteru sejak perdana menteri Adel Abdul Bahdi mengundurkan diri pada November.

Allawi harus membentuk pemerintahan dalam waktu satu bulan. Ia juga menghadapi mosi tidak percaya di parlemen. Iran pada Minggu menyambut baik penunjukan Allawi.

Para pemrotes, yang mendesak agar elite berkuasa Irak dicopot serta menuntut perwujudan pekerjaan dan layanan lebih baik, telah secara rutin memblokade jalan-jalan utama di Baghdad dan Irak selatan sejak demonstrasi meletus pada Oktober.


BENDERA PBB DAN EU

Beberapa pedemo di Baghdad pada Minggu mengibarkan bendera nasional sementara sejumlah lainnya mengibarkan bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Uni Eropa. "Kami meminta PBB untuk mendukung dan melindungi para pemrotes Irak," demikian bunyi beberapa pesan.

"Allawi adalah anggota permainan politik yang telah menghancurkan Irak, dia harus pergi," kata Malek Jawad, mahasiswa yang berunjuk rasa.

Belasan pemuda Irak berdiri di atas sebuah truk sambil membawa alat besar pengeras suara dan bersorak-sorak ke arah massa.

"Moqtada al-Sadr telah mengirimkan pesan berbeda sejak awal, tapi akhirnya dia jelas memperlihatkan bahwa dia bertentangan dengan para pemrotes," kata Jawad.

Para pendukung Sadr memperhatikan para pedemo dari dalam dan sekitar Restoran Turki.

Sadr telah mengarahkan kerusuhan antipemerintah muncul pada tahun-tahun sebelumnya. Tapi, dia belum bisa mengendalikan gelombang demonstran kali ini. Banyak pemrotes menentang dia selain semua anggota elite politik.

Para pendukung Sadr sebelumnya mendukung para pemrotes dan kadang-kadang membantu melindungi mereka dari serangan pasukan keamanan dan orang-orang bersenjata tak dikenal.

Banyak pendukung Sadr berasal dari daerah kumuh di Baghdad timur dan sama-sama sedih, seperti banyak warga Irak lainnya, atas lapangan kerja yang minim serta layanan kesehatan dan pendidikan yang buruk.

Kerusuhan tersebut merupakan krisis terbesar Irak dalam beberapa tahun terakhir ini. Kerusuhan menghancurkan ketenangan yang telah berlangsung hampir dua tahun setelah ISIS dikalahkan pada 2017.


(Dilaporkan oleh Nadine Awadalla, John Davison dan Aziz El Yaakoubi; Disunting oleh Helen Popper dan Frances Kerry)