Ulama perempuan jadi benteng pertama tangkal ajaran merusak

Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan, ulama perempuan punya peran strategis dalam konteks kebangsaan karena mampu menjaga dan memelihara paham ahlussunnah wal jama'ah dengan prinsip tasamuh, moderat, tawassuth, toleran, dan tawazun atau seimbang.

"Melalui dakwah dan tarbiyah kepada keluarga dan masyarakat, ulama perempuan dapat menjadi benteng pertama terhadap ajaran yang merusak karakteristik dan warna keislaman Indonesia," ujarnya saat membuka Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) melalui video tapping di UIN Walisongo, Semarang, Jawa Tengah, Rabu.

Baca juga: Kongres Ulama Perempuan Indonesia bakal diikuti 20 negara

Ma'ruf menjelaskan, karakteristik-karakteristik perempuan dapat menjangkau ruas-ruas yang rentan terhadap infiltrasi radikalisme, seperti generasi muda dan lingkungan sesama perempuan.

Apalagi dengan kenaikan penggunaan internet dan media sosial, imbuhnya, kelompok yang sudah rentan akan semakin mudah terpapar hoaks dan ajaran agama yang menyimpang.

"Di sinilah Kongres Ulama Perempuan Indonesia dapat semakin memperkuat kiprahnya," kata Ma'ruf.

Baca juga: KemenPPPA edukasi ulama dan pesantren cegah sunat pada perempuan

Lebih lanjut ia berharap, para ulama perempuan dapat mengambil bagian dalam jihad digital baik bentuk dakwah untuk menangkal konten-konten yang tidak produktif bagi kemajuan umat maupun melalui program pemberdayaan masyarakat.

Ma'ruf menyampaikan, inilah saatnya ulama perempuan memantapkan kontribusi dalam mewujudkan peradaban umat manusia yang damai, maju secara berkeadilan dan berkelanjutan, serta maslahat bagi alam semesta sesuai dengan ajaran Islam.

"Saya berharap melalui penyelenggaraan kongres ini lahir pemikiran ulama-ulama perempuan Indonesia untuk mengisi pembangunan maupun menjawab isu kemanusiaan melalui aksi dan advokasi gerakan maupun dalam dukungan formulasi kebijakan publik," terangnya.

Baca juga: AMAN: Gerakan ulama perempuan di Indonesia menjadi contoh bagi dunia

KUPI merupakan ruang perjumpaan antar ulama perempuan Indonesia dari beragam latar belakang pendidikan dan organisasi yang bersifat non partisan, inklusif, partisipatoris, lintas organisasi, lintas generasi, lintas latar belakang sosial, dan pendidikan.

Kongres Ulama Perempuan Indonesia KUPI diselenggarakan di UIN Walisongo Semarang dan Pondok Pesantren Hasyim Asy'ari Jepara, Jawa Tengah, pada 23 sampai 26 November 2022. Kegiatan selama empat hari itu menjadi medium atau ruang refleksi ulama perempuan, sekaligus konsolidasi pengetahuan ulama perempuan tak hanya Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

Baca juga: Kongres Ulama Perempuan Indonesia angkat isu kesetaraan gender

Ketua Majelis Musyawarah KUPI Badriyah Fayumi mengatakan, pihaknya menyelenggarakan kongres di perguruan tinggi dan pesantren karena kedua instansi pendidikan itu merupakan tempat pertama pengkaderan ulama pesantren.

Menurutnya, kampus dan pesantren adalah ruang hikmah utama bagi para ulama perempuan, ulama perempuan akademisi hikmahnya di kampus dengan mengisi pendidikan, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat.

"Kami pilih pesantren dan perguruan tinggi karena tradisi keilmuan yang ada di kampus dan pesantren sama sama tradisi keilmuan islam yang punya kekhasan dan keunikan," ucap Badriyah.

Baca juga: Indonesia dorong kebangkitan gerakan ulama perempuan internasional
Baca juga: Yenny Wahid: NU Women langkah progresif NU sikapi isu-isu perempuan