Ulasan Buku Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Apakah hidup selalu mudah untuk dijalani? Hm, sepertinya tidak. Seiring waktu berjalan dan semakin bertambahnya usia kita, kita akan dihadapkan pada berbagai macam tantangan hidup. Begitu banyak persoalan dan permasalahan yang kita hadapi. Bahkan beberapa masalah membuat kita rasanya babak belur tak karuan.

Di sinilah kita perlu memahami soal filsafat. Filsafat menawarkan kebajikan dan kebijakan yang bisa kita gunakan sebagai strategi menjalani hidup dengan lebih baik. Ternyata ada banyak pemikiran dari para filsuf yang masih relevan hingga saat ini. Seperti pemikiran dari filsuf Stoa soal mengelola ekspektasi, seni menikmati saat ini dari Epicurus, Socrates dengan filsafat jalanan yang populer, seni kontemplasi kosmis, seni mengingat dan mantra, seni memupuk keraguan, seni anarki, seni keadilan, seni heroisme, hingga seni pertumbuhan.

Apakah memelajari filsafat itu susah? Belum tentu. Melalui buku Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya, kita bisa mendapatkan banyak intisari tentang pemikiran dan poin-poin penting soal filsafat dari 12 pemikir terbesar di dunia. Berbagai pesan dan kiat yang disampaikan tiap pemikir dan filsuf di sini sangat bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ditulis oleh Pendiri The London Philosophy Club

Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya./Copyright Endah
Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya./Copyright Endah

Judul: Filosofi untuk Hidup dan Bertahan dari Situasi Berbahaya Lainnya

Penulis: Jules Evans

Penerjemah: Rini Nurul Badariyah

Penyunting: Eka Suryana Saputra, Nurjannah Intan, & Eka Arief Setyawan

Perancang sampul: Larasita Apsari & Musthofa Nur Wardoyo

Pemeriksa aksara: Yusnida & Dwi Kurniawati

Penata aksara: Adrianus Adhistama & Rio Ap.

Cetakan pertama, Oktober 2020

Diterbitkan oleh Penerbit Bentang

Kita terkadang pernah terjebak pada permasalahan hidup yang membahayakan keberlangsunganmasa depan kita. Jules Evans, praktisi filsafat praktis serta pendiri The London Philosophy Club (klubfilsafat terbesar di Inggris), pernah mendapati dirinya hidup dalam rasa cemas,depresi, serta stres pasca-trauma selama bertahun-tahun.

Melalui risetnya, Jules mengetahui bahwa gangguan-gangguan emosional ini dapat ditangani denganCBT (Cognitive Behavioural Therapy atau Terapi Perilaku Kognitif). Sebulan setelah menjalani terapiitu, ia tidak lagi terkena serangan panik. Kepercayaan dirinya kembali muncul, bahkan mampumencerna emosi yang meluap secara tiba-tiba. Menariknya, ide dan teknik-teknik dalam CBT ternyatatak asing—mengingatkannya pada pengetahuan seputar filsafat Yunani Kuno.

Dalam buku ini, Jules membayangkan sebuah sekolah impian, yang di dalamnya tercakup 12 pemikirterbesar di dunia. Kedua belas filsuf itu menyampaikan sebuah pesan berharga agar kita mampumenangani masalah dalam hidup, meminimalisasi emosi berlebihan, mengatur ekspektasi agar takmelulu kecewa, menjaga kendali diri lebih bijaksana, hingga mengenal prinsip menikmati hidup agarlebih tangguh dalam menjalaninya.

***

Dalam mengendalikan amarah misalnya, filsuf Stoik bernama Seneca yang juga dikenal sebagai penulis hebat dan psikolog yang unggul, memaparkan bahwa dia meyakini ada satu momen, tepat di awal suatu serangan emosional, ketika kita mempunyai pilihan. Amarah timbul dari penilaian kita atas suatu keadaan.

Seneca punya saran dan kiat soal pengendalian amarah jangka pendek dan jangka panjang. Mulai dari kenali pemicunya, ambil jeda, dan mencoba untuk tersenyum. Pemikiran dan perenungan para filsuf besar sangat mungkin untuk kita aplikasikan ke kehidupan modern.

"Kebijaksanaan tidak bisa berupa teori belaka, kita perlu bangkit dan melihat kemampuan kita dalam situasi sehari-hari. Epictetus memperingatkan para muridnya bahwa mereka mungkin saja gemilang di dalam kelas, 'tapi seret kami ke lapangan dan kami akan babak belur secara menyedihkan.'" (hlm. 51)

Mungkin tidak semua pemikiran atau kebijaksanaan dari semua pemikir di buku ini bisa kita terima dan langsung terapkan. Kita bisa memilih dan memilah yang paling sesuai dengan situasi, kondisi, dan kebutuhan kita. Di tengah situasi yang serba sulit seperti saat ini, karena pandemi misalnya, kita mudah sekali stres atau tertekan ketika dihadapkan pada berbagai persoalan yang datang silih berganti. Menemukan berbagai petuah bijaksana dan kiat-kiat yang disarikan dari para filsuf di buku ini bisa membantu kita untuk menemukan sudut pandang baru dalam berjuang menjalani hidup.

Bagi yang tertarik dengan dunia filsafat atau baru ingin mencoba membaca buku bertema filsafat dengan bahasa yang cukup ringan, buku ini bisa jadi salah satu referensi terbaik. Menemukan banyak wawasan baru dari para pemikir besar dan filsuf ternyata bisa sangat mencerahkan.