Ulasan: 'Downhill' sebuah karya untuk Louis-Dreyfus dan Ferrell

Daur ulang film non bahasa Inggris tak pernah menjadi jenis produksi paling terhormat di Hollywood, tetapi pemilihan waktu "Downhill," sebuah daur ulang dari film Swedia berjudul "Force Majeure karya Ruben Östlund pada 2014 tidak menjadi masalah.

"Downhill" diputar di bioskop-bioskop hanya beberapa hari setelah kemenangan Oscar bersejarah untuk thriller karya Bong Joon Ho dari Korea Selatan berjudul "Parasite".

Hollywood memburu sumber materi bagus ke mana pun. Hasilnya kadang sinis, kadang hebat. Mendaur ulang film non bahasa Inggris itu semudah membalikkan telapak tangan, tapi juga berarti menjauhkan, contohnya, kegembiraan "The Birdcage" dan mungkin komedi terbesar sepanjang masa, "Some Like it Hot."

Kedua film tersebut menunjukkan apa yang bisa membuat daur ulang seperti itu bukan cuma berhasil namun juga menghidupkan: para komika hebat dan para penulis cemerlang. Dalam kasus daur ulang garapan Mike Nichols "The Birdcage", ada Robin Williams dan Gene Hackman, dari adaptasi Elaine May. "Some Like it Hot," ditulis oleh duo hebat Billy Wilder dan I.A.L. Diamond, memiliki Tony Curtis, Jack Lemmon dan Marilyn Monroe. Tidak buruk, pun tidak datar.

Dan jika Anda ingin mengamerikanisasi film Eropa, Anda tak bisa melakukan jauh lebih baik ketimbang memasukkan Julia Louis-Dreyfus dan Will Ferrell ke dalamnya. Kehadiran mereka, sendirian, daur ulang film apa pun dengan gaya komedi tunggal mereka, yang sebelumnya tidak pernah main bersama. "Downhill," juga, hadir dengan otak komedi berbakat di belakang kamera pada diri sutradara Nat Faxon dan Jim Rash (penulis skenario peraih Oscar dalam "The Descendants"), yang ikut menulis adaptasi karya Jesse Armstrong, otak di balik "Succession" yang tayang di HBO.

"Downhill" mengambil bentuk dasar film karya Östlund. Sebuah keluarga beranggotakan empat orang (kali ini berkunjung dari Amerika, bukan dari Swedia) berada di Alpen untuk liburan ski ketika longsoran salju melanda pegunungan itu. Keluarga tersebut awalnya menikmati pemandangan dari geladak sebuah pondok ski, ketika gulungan salju mendekat, panik pun mulai. Sang suami, Pete (Ferrell), meraih teleponnya dan melarikan diri sementara istrinya, Billie (Louis-Dreyfus), mati-matian memegang kedua putra mereka.

Bahkan seandainya Anda tak menonton "Force Majeure," Anda mungkin ingat adegan aslinya; itu sudah menjadi meme yang tersebar luas tahun lalu. Itu pengambilan gambar yang luar biasa dan momen teror yang, bagi keluarga "Force Majeure," setelah itu membuka lebar retak dan celah dari sebuah pernikahan sambil menggali komedi eksistensial soal peran monogami dan gender.

"Downhill" berkisah sama, dengan sedikit ketidaknyamanan dan agak sedikit banyak humor gaya "Liburan Eropa". Setelah longsoran salju itu, Billie menjadi mudah naik pitam, marah terhadap suaminya yang pengecut dan ketakmenentuan baru dalam masa depan pernikahan mereka. Pete awalnya menolak mengakui apa pun yang sudah terjadi, sebuah penyangkalan yang runtuh dalam suasana yang ironis di hadapan pasangan yang mengunjungi mereka (Zach Woods, Zoë Chao).

Mudah saja menyebut "Downhill" tak memiliki nuansa "Force Majeure," namun film Östlund juga tak sempurna. Seperti "The Square" karyanya, film membuat ironi dan sindiran tajam tetapi tidak tepat, dan tak terlalu sesuai dengan awalnya yang spektakuler. Tentu saja ini film yang lebih baik, tetapi kesenangan menonton Ferrell dan, khususnya, Louis-Dreyfus dalam "Downhill" tak boleh disepelekan.

Kehadiran Ferrell sedikit mengubah dinamika pada film ini. Dalam "Force Majeure," lapisan kayu bersemir dari sang suami (Johannes Kuhnke) pecah. Namun Ferrell menghabiskan waktu puluhan tahun mengecam dan dengan riang serta cerdas mendekonstruksu maskulinitas. Dia mungkin sudah sangat mengenal lereng ini. Di sini Ferrell dengan cakap dan meyakinkan bermain lebih membumi ketimbang kehadiran biasanya di layar, tetapi bagian itu mungkin membutuhkan aktor yang kurang jelas selaras dengan rapuhnya pria.

Tetap saja, itu semacam peran yang sempurna untuk Ferrell, yang membaurkan baik komedi personanya maupun keterampilan dramatik yang kurang sering terlihat, terutama seperti ditampilkan dalam film adaptasi Raymond Carver "Everything Must Go." Dia dan Louis-Dreyfus sama-sama hebat, dan "Downhill" ditopang oleh chemistry di antara mereka.

Tak banyak yang bisa dikatakan tentang Louis-Dreyfus, yang juga memproduksi "Downhill." Bakatnya dalam proyek pasca "Veep" pertamanya tetap luar biasa. Dari "Seinfeld" ke "Veep," saya kira kebesaran Louis-Dreyfus terletak pada kemampuannya menguliti kebodohan para pria di sekitarnya yang saat bersamaan mencerca dirinya sendiri.

Mengingat talenta yang terlibat, saya hanya berharap Rash dan Faxon melangkah lebih jauh, mengubah "Force Majeure" menjadi sandiwara jenaka yang terus terang. Pada pemutaran perdana film ini di Sundance Film Festival, Rash (yang menjadi sorotan dalam sitkom "Community") memimpin para pemain film ini dalam improvisasi spontan. (Woods juga merupakan seorang komika improvisasional yang luar biasa). Andai "Downhill" membuat treknya lebih banyak lagi.

"Downhill," sebuah rilis dari Fox Searchlight, diberi peringkat R oleh Motion Picture Association of America atas bahasa dan beberapa materi seksual. Durasi: 86 menit. Tiga bintang dari skala empat bintang.