Umat Islam Bersatu Lawan Prancis, Jika Hadapi Israel?

Aries Setiawan
·Bacaan 3 menit

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM – Jurnalis Robert Inlakesh menyampaikan pandangannya soal sikap umat Muslim dunia terhadap apa yang terjadi di Prancis. Pandangan Inlakesh dimuat di laman 5 Pillars, Ahad (1/11).

Dia membandingkan sikap solidaritas umat Muslim kepada Muslim Prancis dan rakyat Palestina. Umat Muslim memang dengan cepat dan efektif menyikapi penderitaan Muslim Prancis, tetapi sikap mereka terhadap penderitaan orang-orang Palestina justru jauh di bawah.

Presiden Prancis Emmanuel Macron membuat keputusan untuk mendukung penghinaan terhadap Islam dengan mendukung pencetakan kartun Nabi Muhammad SAW.

Umat Islam dari semua kelompok pun bersatu dengan mengecam Emmanuel Macron dan segera melaksanakan boikot atas barang-barang Prancis. Jadi, apakah sekarang saatnya umat Muslim melakukan hal yang sama terhadap Israel untuk Palestina?

Tindakan keras Prancis terhadap Muslim tak berdosa di seluruh Prancis, yang tidak ada hubungannya dengan serangan teroris, jelas dipandang sebagai tindakan keras secara kolektif terhadap Muslim sehingga bukan kejahatan individu yang bertanggung jawab atas kejahatan kekerasan.

Tindakan keras ini diperparah dengan komentar baru-baru ini dari Presiden Macron di mana dia mengklaim bahwa "Islam dalam krisis" dan "separatis Islam" adalah masalah besar di Prancis.

Bahkan dia juga membela penggambaran yang menghina Nabi Muhammad yang dilakukan Charlie Hebdo. Ini semua memicu reaksi di seluruh dunia dari Muslim yang telah memutuskan bahwa perilaku ini tidak dapat ditoleransi.

Jadi sebagai Muslim, setelah mengambil sikap moral melawan Islamofobia yang merajalela di Prancis, apakah sekarang sudah waktunya menggunakan energi terpadu ini untuk menghadapi rezim Islamofobia Israel atas kejahatan keji terhadap Palestina dan Umat Muslim secara keseluruhan?

Muslim Palestina baru saja ambil bagian dalam salah satu demonstrasi terbesar menentang tindakan Emmanuel Macron dan negara Prancis di lokasi Masjid Al-Aqsa. Ribuan warga Palestina, setelah sholat Jumat, berkumpul untuk memprotes Islamofobia Prancis yang mengakibatkan pasukan pendudukan Israel secara brutal menyerang dan menangkap demonstran di jalan-jalan kota tua Yerusalem.

Namun, perilaku otoritas Israel ini bukanlah hal baru. Sejak pendudukan Yerusalem Timur pada 1967, dan kemudian pencaplokan wilayah ini pada 1980, pemukim ekstremis Israel, pasukan pendudukan dan tokoh politik terkemuka telah dengan kejam menyerang jamaah Muslim di situs tersuci ketiga dalam Islam, kompleks Al-Aqsa.

Upaya yang tak terhitung jumlahnya telah dilakukan untuk membakar Masjid Al-Aqsa hingga rata dengan tanah oleh para ekstremis dan serangan yang tak terhitung jumlahnya oleh pasukan pendudukan Israel telah menyebabkan Masjid Al-Aqsa rusak. Israel bahkan melakukan operasi pengeboran ekstensif di bawah kompleks Al Aqsa, yang melemahkan fondasi situs tersebut.

Penghancuran situs di dalam Yerusalem bukan hanya hiperbola, melainkan itu juga ancaman nyata bagi kehidupan warga Palestina di kota. Faktanya, 2020 ditetapkan untuk memecahkan semua rekor sebelumnya mengenai jumlah rumah Palestina yang dihancurkan di Yerusalem Timur.

Ratusan orang Palestina telah kehilangan tempat tinggal sepanjang tahun ini. Serangan Islamofobia terhadap Al-Aqsa dilakukan setiap tahun (dalam beberapa periode bahkan setiap hari), namun umat Muslim terus berdiri dan menghindari masalah ini dan di sisi lain merespons dengan cepat permasalahan Islamofobia yang terjadi di Prancis.

Tokoh politik Israel telah berkali-kali menghina Islam dan reaksinya lemah. Rezim Israel bahkan telah mengubah masjid penting di Palestina, seperti Masjid Al-Ahmar abad ke-13 di Safad, menjadi klub malam sebagai penghinaan terhadap Muslim.

republika.co.id/berita/qj5x8f320/umat-islam-bersatu-lawan-prancis-jika-hadapi-israel-part1">Selanjutnya Klik disini