UMG IdeaLab Hadirkan Artificial Intelligence Center di FMIPA UI

Tasya Paramitha
·Bacaan 3 menit

VIVA – Saat ini Indonesia sudah memiliki dasar landasan Strategi Nasional Kecerdasan Artificial Tahun 2020-2045, seiring dengan tantangan revolusi industri 4.0.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Nizam baru-baru ini mengatakan bahwa landasan tersebut berfokus pada dua hal, yaitu pengembangan ekosistem pembelajaran kecerdasan artifisial (AI Learning) dan ekosistem inovasi kecerdasan artifisial (AI Innovation) dengan memprioritaskan di lima area.

Baca Juga: Jokowi Bicara Teknologi Kecerdasan Buatan untuk Pemanfaatan Hutan

Mulai dari edukasi dan riset, kesehatan, mobilitas dan kota cerdas, keamanan pangan dan reformasi birokrasi.

Baru-baru ini, perusahaan pusat inovasi teknologi 4.0, UMG IdeaLab mendirikan Artificial Intelligence Center Indonesia (AiCI) yang berlokasi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (MIPA UI). Hal ini dilakukan untuk mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam memuluskan tantangan revolusi industri 4.0 Tanah Air di bidang AI Learning dan Innovation.

Bersama Kemendikbud dan UI, AiCI juga mengadakan pelatihan vokasi untuk meningkatkan kompetensi guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Center of Excellence negeri di bidang AI pada September 2020 lalu. Itu karena jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang artificial intelligence (AI) terbilang masih cukup langka.

“Di AiCi, kami mengajarkan AI tidak hanya di jenjang perguruan tinggi, namun juga tingkat sekolah. Bahkan ada kurikulum AI untuk tingkat Sekolah Dasar. Hal ini demi menyiapkan SDM yang sesuai dengan kebutuhan industri,” ucap Founder UMG IdeaLab, Kiwi Aliwarga dalam keterangannya, Jumat, 30 Oktober 2020.

Pihaknya ingin membentuk talent pool untuk AI yang sesuai dengan kebutuhan industri dan menyiapkan talenta yang dapat membuat lapangan kerja baru dengan kreativitas dan inovasi.

Senada dengan Kiwi, CEO Bahasa Kita, Oskar Riandi juga mengungkapkan bahwa selain SDM, data set juga menjadi salah satu kendala AI, bahkan di level perusahaan besar di Indonesia.

Bahasa Kita sendiri merupakan salah satu startup yang termasuk dalam ekosistem UMG IdeaLab di bidang pengembangan produk teknologi suara, bahasa dan AI. Inovasi unggulan mereka di antaranya sistem transkrip rapat dan percakapan telepon serta analisisnya, translasi ucapan dari satu bahasa ke bahasa lain, voice enabled smart assistant dan untuk keperluan industri berupa voice inspection, acoustic inspection hingga voice biometric.

“Teknologi AI pasti membutuhkan data set yang yang sangat besar. Oleh karena itu, kami terus berusaha agar data set tersebut semakin besar dan bisa digunakan dalam domain yang beragam," ujarnya.

Terbukti, Oskar mengatakan bahwa beberapa lembaga pemerintah telah menggunakan teknologi pihaknya, seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), DPR RI, hingga Kemenko Bidang Kemaritiman.

"Selain itu, kami juga fokus pada inovasi lokalisasi penggunaan bahasa di suatu daerah, dari dialek hingga bahasa serapan demi semakin memudahkan user dalam menggunakan teknologi kami,” kata Oskar.

Sampai saat ini, Bahasa Kita memiliki beberapa produk unggulan, yakni Notula yang masuk di segmen transcription and analytic. Notula diketahui pernah digunakan sebagai alat transkrip otomatis pada momen debat capres 2019 lalu.

Selain itu, ada Minit yang merupakan platform video call dengan teknologi transkrip otomatis dan speaker recognition yang bisa digunakan pada server lokal. Kemudian ada Tman sebagai platform komik dan podcast edukasi dengan teknologi pensintesa ucapan, hingga Rona, platform interactive robotic berbasis suara sebagai alternatif front office untuk melayani masyarakat pada kondisi pandemi.

Selain AiCI dan Bahasa Kita, perusahaan rintisan bidang AI lainnya yang tergabung dalam ekosistem UMG IdeaLab adalah Widya Wicara, smart speaker berbahasa Indonesia, dan Botika, platform chatbot yang di tahun 2019 berhasil merampungkan kurang lebih 20 juta lalu lintas pesan di sistemnya.