UMKM perlu kejar ketertinggalan dengan gunakan "e-commerce"

Kelik Dewanto

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) khususnya di kawasan perdesaan dinilai perlu mengejar ketertinggalan baik dalam soal produk maupun daya saing dengan menggunakan fasilitas perdagangan elektronik (e-commerce) secara intensif.

"Rangsang UMKM dan usaha-usaha rintisan di desa agar dapat mengejar ketertinggalan mereka dengan e-commerce," kata Anggota Komisi VI DPR RI Elly Rachmat Yasin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Pedagang pasar dan UMKM di Balikpapan diajak "go online"

Menurut Elly Rachmat Yasin, salah satu cara menggairahkan UMKM dengan e-commerce adalah memperbaiki pemahaman terhadap pengaplikasian teknologi digital.

Politisi Partai Persatuan Pembangunan itu mengamati bahwa sumber daya manusia Indonesia masih belum merata terkait kemampuan berdagang via teknologi digital.

"Terutama pengusaha-pengusaha kecil di perdesaan. Padahal, kita ketahui mereka sebenarnya memiliki produk-produk unggulan," katanya.

Untuk itu, ujar dia, tekad Indonesia untuk menjadi perekonomian digital terbesar pada 2020 mendatang juga harus disertai dengan penerapan nyata dalam rangka menciptakan individu yang mandiri dan unggul di bidang perdagangan melalui sistem elekronik.

Senada, Anggota Komisi VI DPR RI Darmadi Durianto menginginkan pemerintah dapat menggencarkan pendampingan bagi pelaku usaha mikro dan kecil dalam rangka mempersiapkan mereka meningkatkan digitalisasi UMKM di era global.

"Untuk menuju digitalisasi UMKM, kita harus memotret situasi ke bawah," kata Darmadi.

Menurut politisi PDIP itu, tidak perlu jauh-jauh di perdesaan, karena masih ada saja pelaku usaha mikro di Jakarta yang dinilai masih gagap teknologi.

Ia berpendapat bahwa beberapa faktor yang menyebabkan UMKM Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan usaha, yakni akses pasar, permodalan dan penguatan SDM.

"Karena itu, kita ingin masyarakat diberikan paket komplit, tidak bisa setengah jadi, bukan hanya KUR tetapi ada manajemen skill. Kalau kita ngomong tentang manajemen skill, berarti kita bicara tentang pendampingan. Sebetulnya, mereka juga butuh didampingi, tidak melulu dikasih modal," ujarnya.

Dengan adanya perhatian dari pemerintah dengan digitalisasi UMKM, ujar dia, maka hal itu juga akan meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha mikro.

Sebelumnya, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengusulkan konsep one gate policy dengan mengonsolidasikan seluruh program pemberdayaan UMKM dalam satu wadah agar semakin terkoordinasi dengan baik sehingga mudah untuk mendorongnya makin maju.

"Saya usulkan one gate policy untuk UMKM dan juga one gate pembiayaan," katanya.

Ia mengatakan saat ini program pemberdayaan UMKM tersebar di setidaknya 18 kementerian/lembaga. Jumlah itu belum termasuk program serupa di BUMN maupun perusahaan swasta.

Baca juga: Teten usulkan "one gate policy" untuk majukan UMKM di Indonesia