UNDP luncurkan Accelerator Lab, percepat pencapaian SDGs di Indonesia

Alviansyah Pasaribu
·Bacaan 3 menit

Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) meluncurkan Accelerator Lab UNDP di Indonesia guna mengatasi tantangan pembangunan yang kompleks.

Berbicara pada peluncuran virtual Accelerator Lab, Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro mengatakan teknologi baru dan inovasi sosial memegang kunci untuk mengatasi berbagai tantangan utama di dunia.

"Pandemi COVID-19 telah membuat kita sadar betapa pentingnya tindakan cepat dan kreativitas untuk mengatasi tantangan pembangunan saat ini. Kita memerlukan ide dan kreativitas baru untuk menghadirkan teknologi baru yang dapat mendistrupsi paradigma lama yang menghambat solusi untuk mengatasi tantangan seperti perubahan iklim dan ketimpangan," kata Bambang dalam siaran pers pada Senin.

Baca juga: Kolaborasi teknologi jadi kunci untuk jalani bisnis di 2021

Accelerator Lab Indonesia akan menjadi salah satu dari 91 Accelerator Lab di 115 negara yang mencari, menguji, dan meningkatkan solusi untuk mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Kepala Perwakilan UNDP Indonesia, Norimasa Shimomura meminta semua pemangku kepentingan untuk mempercepat tindakan dan mengadopsi inovasi karena semakin kompleksnya tantangan yang ada.

"Kreativitas dan kecepatan harus menjadi pendekatan baru kita. Tantangan pembangunan yang semakin kompleks saat ini membutuhkan peluang baru untuk menghasilkan lebih banyak kreativitas. Dan seiring berjalannya waktu menuju 2030, kita tidak punya pilihan selain mempercepat pencapaian SDGs dengan ide dan tindakan baru. UNDP Indonesia bangga meluncurkan Accelerator Lab hari ini karena dapat menambahkan lebih banyak solusi dan ide untuk mengatasi tantangan hari ini untuk meraih peluang di masa depan," kata Shimomura.

Dengan pendanaan dari Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Qatar Fund for Development, Accelerator Lab Indonesia telah melakukan studi perkotaan tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan air seperti banjir sebagai bagian dari upaya awalnya. Accelerator juga melakukan studi etnografi di lima komunitas yang terkena bencana dan mensurvei 520 orang di 125 kota di Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Peter Schoof, Duta Besar Jerman untuk Indonesia mengatakan adanya pusat jaringan pembelajaran di Indonesia akan membantu ide dan kreativitas mengalir lebih mudah, menciptakan solusi yang cepat dan mendorong lebih banyak praktisi untuk mempercepat proses untuk memenuhi agenda SDGs.

"Pemerintah Jerman bangga mendukung pendirian Accelerator Lab di Indonesia yang diharapkan dapat menjadi katalisator pembelajaran untuk solusi SDGs," kata Peter.

Sementara itu, Duta Besar Qatar untuk Indonesia Fawziya Edrees Salman Al-Sulaiti mengatakan inovasi adalah inti pembangunan pesat Qatar dalam beberapa dekade terakhir.

"Masyarakat kami telah mengalami perubahan transformatif dan menjadi lebih baik karena kami terus mendorong inovasi dan teknologi. Perubahan besar dengan skala nasional dapat dimulai dari komunitas kecil dan kami harap Accelerator Lab Indonesia menjadi jaringan pembelajaran yang berkembang pesat," kata Fawziya.

Menghadirkan inovasi dinamis ke dalam birokrasi publik besar tidak pernah mudah, dan akan selalu ada banyak penentang. Tetapi tanpa inovasi yang dipercepat, kecil peluang untuk mencapai SDGs, kata Geoff Mulgan, Professor of Collective Intelligence, Public Policy and Social Innovation, University College London dan penasihat Global Accelerator Labs.

Menurutnya Accelerator Lab telah membuat awal yang baik, yang berfokus pada tindakan praktis.

Accelerator Lab Indonesia akan bekerja dalam kemitraan dengan Pemerintah Indonesia, akademisi, CSOs, masyarakat setempat, komunitas inovator nasional dan internasional, dan start-up.

Bagian dari kegiatan awal Accelerator Lab Indonesia adalah survei warga tentang masalah perkotaan di lima komunitas yang terkena bencana.

Sekitar 334 orang menghadiri peluncuran Accelerator Lab secara virtual yang berjudul "Menuju Masa Depan yang Lebih Inovatif dan Inklusif untuk Indonesia".

Baca juga: Huawei prediksi adopsi cloud semakin tinggi

Baca juga: AI hingga otomasi, tren teknologi "enterprise" utama di 2021

Baca juga: Facebook latih AI dengan video publik