Unggul di Survei, Capres AS Joe Biden Minta Pendukung Tak Terlena

Liputan6.com, Washington, D.C. - Capres Joe Biden dari Partai Demokrat unggul di berbagai survei pilpres Amerika Serikat 2020. Pada survei terbaru, Biden unggul 14 poin dari Presiden Donald Trump.

Survei itu dilaksanakan New York Times bersama Sienna College. Biden mendapatkan total 50 persen, sementara Trump hanya 36 persen. Biden terutama unggul di kalangan perempuan dan pemilih non-kulit putih.

"Biden mengungguli Trump dalam selisih besar pada pemilih kulit hitam dan Hispanik, dan perempuan dan anak muda juga cenderung memilih Tn. Biden ketimbang mereka mendukung Hillary Clinton melawan Trump pada 2016," tulis New York Times seperti dikutip Jumat (26/6/2020).

Tim kampanye Joe Biden meminta pendukungnya tidak terlena atas kemenangan survei. Masyarakat diarahkan agar tetap daftar untuk dapat memilih.

"Abaikan survei-survei. Daftarlah untuk memilih," ujar akun Twitter @JoeBiden.

Kekhawatiran tim Biden seperti bukan tanpa alasan. Pasalnya, Hillary Clinton juga diprediksi menang oleh survei pada pilpres 2016.

Sebulan sebelum pemilu, New York Times menyebut Hillary Clinton punya peluang 91 persen untuk menang.

Pada hari pencoblosan, media asal New York City itu kembali menyebut Hillary punya 85 persen peluang menang, sementara peluang Trump hanya 15 persen.

New York Times merupakan salah satu media yang berdeklarasi mendukung Hillary Clinton pada pilpres 2016.

Joe Biden sebelumnya merupakan wapres bagi Barack Obama untuk dua periode. Ia telah aktif di dunia politik selama setengah abad.

Elektabilitas Joe Biden

Joe Biden, mantan Wakil Presiden AS ke-47 (AP/Steven Senne)

Menurut jajak pendapat dari Reuters-Ipsos, tingkat keterpilihan atau elektabilitas calon presiden AS dari Partai Demokrat, Joe Biden, unggul 13 poin dari Presiden Donald Trump. 

Dikutip dari The Hill, Jumat 19 Juni 2020, 48 persen responden dalam survei tersebut mengatakan bahwa mereka akan memilih Joe Biden, dengan 35 persen mengatakan akan mendukung Donald Trump. 

Dalam beberapa bulan terakhir, Donald Trump mengetahui jumlah jajak pendapatnya menurun, yang diduga sebagai kritik atas penanganannya terhadap pandemi Virus Corona COVID-19, juga termasuk tanggapannya terhadap protes nasional yang dipicu oleh pembunuhan yang dilakukan oleh polisi kulit putih terhadap pria keturunan Afrika-Amerika, George Floyd.

Selain itu, 50 persen responden mengatakan mereka tidak setuju atas penanganan pandemi oleh Donald Trump, dimana kematian karena Virus Corona di AS telah mencapai lebih dari 115.000 warga, dan hanya 40 yang menyetujui tanggapannya terhadap krisis.

Sebaliknya, jumlah dari mereka yang disurvei ikut bersimpati terhadap aksi protes Yang telah berlangsung selama lebih dari tiga pekan mencapai sekitar dua pertiga.

Secara berulang kali, Donald Trump telah mengancam akan mengerahkan militer untuk memadamkan kerusuhan yang terjadi saat protes, yang beberapa di antaranya adalah penjarahan dan kerusakan properti. 

Dukungan untuk Donald Trump di kalangan Partai Republik telah menurun 13 poin sejak Maret lalu, menurut jajak pendapat baru.  

Di antara semua responden, hanya 38 persen menyetujui kinerja Donald Trump selama proses pemakzulan, yang juga menjadi jumlah dukungan terendah sejak November 2019. 

Dalam jajak pendapat, Donald Trump mendapatkan keuntungannya pada ekonomi, dengan 43 persen responden mengatakan bahwa ia akan lebih baik bagi perekonomian, sementara 38 persen dari yang memilih Joe Biden.

Jajak pendapat yang mensurvei sebanyak 4.426 pemilih terdaftar itu dilakukan pada 10-16 Juni, dan memiliki margin kesalahan 2 poin persentase.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: