Unhas dan BKKBN perkuat kolaborasi dalam penanganan stunting

Universitas Hasanuddin dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperkuat kolaborasi dalam upaya strategis pencegahan dan penanganan stunting atau kekerdilan.

Rektor Unhas Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc dalam keterangannya di Makassar, Rabu, mengatakan terdapat beberapa program strategis Unhas dalam mendorong pencegahan dan penanganan stunting.

Ia menjelaskan seluruh fakultas utamanya Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) banyak terlibat melakukan pendampingan pada ibu hamil hingga melahirkan pada 1.000 hari pertama kehidupan.

“Unhas sudah bergerak melalui Gerakan Kampus Peduli Stunting dengan menggandeng pemerintah daerah melalui berbagai program yang melibatkan dosen serta mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat," ujarnya.

"Ini menjadi komitmen Unhas untuk terlibat dalam permasalahan stunting, dan kami siap berkolaborasi dengan BKKBN,” sambung Jompa.

Baca juga: Deputi Dalduk lakukan pembinaan pegawai BKKBN Sulsel

Baca juga: BKKBN: 'Kapatuli' persulit Sulawesi Tenggara terbebas dari stunting

Lebih lanjut ia mengatakan untuk mengoptimalkan pencegahan dan penanganan stunting, peran perguruan tinggi sangat dibutuhkan untuk mendukung kebijakan pemerintah.

Menurutnya, perguruan tinggi mempunyai kontribusi dalam memberikan dukungan terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Jika seluruh kampus bersinergi maka akan lahir generasi Indonesia yang berkualitas dan penanganan stunting dapat terlaksana secara optimal.

Sementara itu, Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN Dr Eng Bonivasius Prasetya Ichtiarto menyampaikan terima kasih atas keterlibatan aktif Unhas dalam pencegahan dan penanganan stunting. Ia juga menjelaskan tentang langkah produktif BKKBN terhadap permasalahan stunting.

Bonivasius juga menyetujui pandangan Unhas tentang perlunya peran strategis perguruan tinggi untuk bersama sama menyelesaikan permasalahan stunting di Indonesia.

Ia berharap Unhas dan BKKBN bisa bersinergi untuk penanganan stunting.

Baca juga: BKKBN perpanjang pemutakhiran PK-21 hingga akhir November 2022

Baca juga: BKKBN sampaikan strategi penanganan stunting di Sulawesi Tenggara