Uni Eropa dan Inggris saling tuntut konsesi setelah pembicaraan pasca-Brexit terhenti

·Bacaan 3 menit

Brussels (AFP) - Juru runding Inggris dan Uni Eropa bersikukuh pada pendiriannya masing-masing dan keduanya menuntut konsesi lebih banyak setelah pembicaraan perdagangan pasca-Brexit berlarut-larut sampai Minggu karena menemui jalan buntu dalam soal hak penangkapan ikan.

Sumber-sumber dari kedua belah pihak mengatakan bahwa kecuali salah satunya mengalah dalam hal akses ke perairan Inggris, Inggris akan meninggalkan pasar tunggal 31 Desember tengah malam tanpa kesepakatan lanjutan dalam hal perdagangan lintas-selat.

"Kami terus mencoba setiap kemungkinan jalan menuju sepakat, tetapi tanpa perubahan substansial dari Komisi (Eropa) kami akan meninggalkan syarat-syarat WTO pada 31 Desember," kata seorang sumber pemerintah Inggris.

Tetapi seorang diplomat Uni Eropa mengatakan kepada AFP bahwa Brussel menuntut Inggris mengajukan tawaran terakhirnya dalam soal penangkapan ikan dan kini tergantung keputusan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson apakah dia menginginkan kesepakatan.

"Jika Inggris tidak menerima tawaran terakhir Uni Eropa, maka itu bakal menjadi 'tidak ada kesepakatan' dalam hal perikanan," kata dia memperingatkan. Seorang pejabat Eropa berkata: "Ini sangat terhalangi."

Pembicaraan sulit itu terjadi pada saat kedua belah pihak terlibat dalam negosiasi intens dan menegangkan dalam mengamankan sebuah pakta sebelum akhir bulan ini. Tidak ada kesepakatan yang akan menimbulkan risiko kacau di perbatasan Uni Eropa dan Inggris di mana ketergesa-gesaan pra-tenggat waktu telah menciptakan antrean sangat panjang truk-truk.

Namun demikian, para pengamat mencatat bahwa masalah penangkapan ikan adalah soal menemukan jalan tengah antara penawaran dan kontra-penawaran dalam sektor yang secara ekonomi kecil, sementara masalah utama lainnya yang jauh lebih besar dalam memastikan berlaku adilnya aturan-aturan persaingan perdagangan, kian dekat menuju penyelesaian.

"Saat ini semuanya tergantung kepada angka," kata diplomat Eropa itu.

Pemimpin perundingan kubu Uni Eropa, Michel Barnier, telah mengusulkan agar para nelayan UE menyerahkan hampir seperempat dari nilai ikan yang saat ini mereka tangkap di perairan Inggris. Inggris diketahui bertahan pada pandirian harus mendapatkan kembali lebih dari separuh nilai itu.

Inggris sudah mengisyaratkan kompromi ini berlangsung selama tiga tahun sebelum dirundingkan ulang, sedangkan Eropa bertahan pada dua kali dari itu.

"Kami tak bisa menerima kesepakatan yang tidak membuat kami mengendalikan hukum atau perairan kami sendiri," kata sumber pemerintah Inggris seraya menegaskan bahwa UE "terus mengajukan tuntutan yang tidak sesuai dengan kemerdekaan kami".

Nelayan-nelayan Uni Eropa khawatir hilangnya akses ke perairan penangkapan ikan Inggris yang kaya bakal mengancam mata pencaharian mereka.

"Kami di ambang berkhianat," kata Aliansi Perikanan Eropa dalam satu pernyataan guna mendesak Barnier agar tetap melindungi nelayan.

"Bentuk kesepakatan seperti yang berlaku saat ini akan memberikan pukulan besar terhadap sektor makanan laut Eropa yang mencakup lebih dari 18.000 nelayan dan 3.500 kapal dengan omset tahunan 20,7 miliar euro."

Waktunya sangat singkat guna mencapai kesepakatan.

Parlemen Eropa menyoroti tenggat waktu Minggu tengah malam (23.00 GMT) dalam menerima kesepakatan guna ditinjau anggota parlemen agar diratifikasi sebelum akhir tahun ini.

Rekan parlemen Inggris mereka sedang reses, tetapi bisa dipanggil kembali dalam waktu 48 jam untuk melakukan hal yang sama.

Tetapi negara-negara Uni Eropa tidak terikat pada tenggat waktu Parlemen Eropa itu.

Menteri Urusan Eropa Prancis, Clement Beaune, mengatakan pembicaraan tidak akan dihentikan jika ditunda sampai Minggu malam.

"Kami tidak akan melakukan hal itu karena yang berisiko adalah seluruh sektor seperti perikanan, layaknya kondisi persaingan berkelanjutan untuk sektor bisnis kami," kata dia.

Urgensi untuk mencapai kesepakatan terlihat pada antrean panjang truk di jalur kereta barang melalui terowongan Channel saat perusahaan-perusahaan Inggris dengan panik menimbun barang.

Sekelompok anggota parlemen Inggris memperingatkan Sabtu bahwa Inggris belum menginstal sistem teknologi informasi yang rumit dan infrastruktur pelabuhan yang diperlukan guna memastikan perdagangan dengan Uni Eropa berjalan lancar.

Kekacauan tak terhindarkan, bersepakat atau tidak, di mana perusahaan-perusahaan Inggris dan Eropa perlu mengisi formulir ekspor-impor, kesehatan dan pajak agar bisa saling mengirim dan menerima barang.

Sebuah kesepakatan akan menghindari tarif namun tetap akan ada kemacetan lalu lintas karena masih berlangsungnya pemeriksaan muatan truk dan surat-surat pengemudi.

Bahkan makan siang para sopir truk akan menjadi sasaran pengawasan perbatasan: pemerintah Inggris memperingatkan sandwich ham dan keju kemasan dilarang memasuki Eropa berdasarkan aturan pembatasan daging dan susu yang berlaku untuk produk-produk non Uni Eropa.


rmb-dc-fmi/tgb