Uni Eropa jatuhkan sanksi kepada Presiden Belarus Alexander Lukashenko

·Bacaan 1 menit

Brussels (AFP) - Uni Eropa pada Rabu meluncurkan prosedur untuk memberikan sanksi kepada Presiden Belarus Alexander Lukashenko, putranya Viktor dan 13 orang lainnya yang dianggap bertanggung jawab atas tindakan keras pasca pemilu di bekas negara Soviet itu, kata sumber-sumber diplomatik di Brussels.

Lampu hijau melarang visa dan membekukan aset Lukashenko dan 14 lainnya diberikan oleh para utusan 27 negara anggota UE dan harus dikonfirmasi dalam jurnal resmi blok itu Jumat, kata mereka.

Uni Eropa telah memberlakukan larangan perjalanan dan pembekuan aset kepada 40 sekutu Lukashenko karena mencurangi pemilu Agustus yang mengembalikan dia ke tampuk kekuasaan dan mengorkestrai tindakan keras terhadap protes massa yang telah mengguncang negara itu sejak pemilu.

Blok itu menahan diri untuk tidak menghukum Lukashenko dengan harapan bisa membujuknya agar terlibat dalam dialog dengan kekuatan oposisi guna menyelesaikan krisis.

Namun demikian, harapan ini tidak terpenuhi dan pada pertengahan Oktober, para menteri luar negeri UE memberikan lampu hijau yang pada prinsipnya untuk mengambil tindakan terhadap pemimpin tersebut.

Lukashenko "bertanggung jawab atas penindasan dengan kekerasan oleh aparat negara sebelum dan sesudah pemilihan presiden 2020", kata keputusan sanksi itu yang dilihat AFP.

Keputusan itu juga memberi tanggung jawab kepada dia untuk mengecualikan kandidat oposisi penting dalam pemilu, "penangkapan sewenang-wenang dan perlakuan buruk terhadap demonstran damai, serta intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis".

UE juga membidik putra Lukashenko, Viktor, yang bertindak sebagai penasihat keamanan nasional di Belarus.

Di antara orang-orang lain yang terlibat adalah kepala staf Lukashenko, Igor Sergeenko, kepala dinas rahasia KGB, Ivan Tertel, dan petugas pers pimpinan Belarus itu.

Uni Eropa menolak hasil pemilu 9 Agustus dan mengatakan tidak menganggap Lukashenko sebagai presiden sah.