Uni Eropa mulai luncurkan vaksinasi taklukkan pandemi

·Bacaan 3 menit

Paris (AFP) - Negara-negara Uni Eropa (EU) pada Minggu mulai meluncurkan kampanye vaksinasi yang disebut sebagai "kunci" menaklukkan COVID-19, saat penyebaran varian baru COVID-19 meningkatkan kekhawatiran bahwa pandemi dapat semakin menjadi-jadi.

Suntikan itu menjadi secercah harapan bagi benua yang masih berjuang melawan pandemi, dengan tingkat infeksi terus melonjak, penguncian diberlakukan, dan rencana Natal serta Tahun Baru berantakan bagi kebanyakan orang.

Jumlah penerima vaksin hari-hari pertama suntikan Pfizer-BioNTech sebagian besar bersifat simbolis dan akan membutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum cukup terlindungi untuk menghadapi hidup normal pasca pandemi, yang telah menelan 1,76 juta korban jiwa di seluruh dunia sejak muncul di China akhir Desember lalu.

Menurut hitungan AFP, jumah kasus COVID-19 di seluruh dunia menembus angka 80 juta pada Minggu pagi.

Lantaran tidak sabar, sejumlah negara EU akhirnya mulai melakukan vaksinasi pada Sabtu, sehari sebelum jadwal resmi, dengan seorang perempuan berusia 101 tahun di panti jompo menjadi orang pertama di Jerman yang divaksinasi. Hongaria dan Slovakia juga meluncurkan vaksinasi perdana mereka.

Seorang penghuni panti jompo berusia 96 tahun di Spanyol menjadi orang pertama di negara tersebut yang divaksinasi pada Minggu, yang disiarkan melalui televisi nasional.

Ia tidak merasakan "apa-apa" dari suntikan tersebut, kata Araceli Rosario Hidalgo Sanchez seraya tersenyum usai divaksinasi.

Di Italia, negara Uni Eropa yang paling parah mengalami pandemi dengan 71.000 kematian, perawat berusia 29 tahun, Claudia Alivernini, merupakan orang pertama yang menerima vaksinasi pada Minggu pagi.

"Dengan rasa bangga dan rasa tanggung jawab yang begitu besar saya mendapatkan vaksin hari ini. Sebuah langkah kecil, namun merupakan langkah fundamental bagi kita semua," kata Alivernini.

"Italia bangun hari ini," kata Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte. "Hari ini akan selalu teringat oleh kita selamanya."

Kepala komisi Uni Eropa, Ursula von der Leyen, melalui akun Twitternya mengatakan bahwa dimulainya kampanye vaksinasi merupakan "momen persatuan yang menyentuh dan kisah sukses bagi Eropa". Ia juga mengatakan Uni Eropa telah "mengamankan dosis yang cukup untuk seluruh penduduk kami yang berjumlah 450 juta orang. "

"Vaksinasi merupakan kunci untuk mengakhiri pandemi," lanjut Menteri Kesehatan Jerman Jens Spahn. "Ini hari yang penuh harapan bagi Eropa."

Prancis akan meluncurkan program vaksinasi di dua panti jompo di pinggiran kota Paris Seine-Saint-Denis, daerah berpenghasilan rendah yang terdampak pandemi, dan juga di episentrum yang sama di timur kota Dijon.

Dengan berfokus pada strateginya untuk melindungi orang tua dan dengan demikian melepaskan tekanan terhadap sistem rumah sakit, pemerintah menginginkan satu juta orang yang paling rentan divaksinasi pada akhir Februari dan 15 juta orang pada musim panas.

China, Rusia, Kanada, Amerika Serikat, Swiss, Serbia, Singapura serta Arab Saudi juga memulai kampanye vaksinasi mereka.

Inggris, yang pekan lalu mematangkan kesepakatan untuk meninggalkan Uni Eropa, mulai meluncurkan kampanye vaksinasi pada 8 Desember, tiga pekan sebelum blok tersebut.

Akan tetapi di Inggris juga muncul varian baru COVID-19 dan telah mencapai ke sejumlah negara Eropa lainnya termasuk Jepang dan Kanada.

Varian baru, yang dikhawatirkan oleh para ahli lebih menular, memicu lebih dari 50 negara memberlakukan pembatasan perjalanan terhadap Inggris.

Menyuarakan keprihatinan dari para pejabat di seluruh benua, Menteri Kesehatan Olivier Veran mengatakan Prancis tidak mengesampingkan penerapan penguncian nasional ketiga, apabila kasus COVID-19 terus meningkat usai musim liburan.

"Kami memantau situasi jam demi jam," kata Veran kepada Journal du Dimanche dengan Prancis mendaftarkan sekitar 15.000 infeksi baru per hari, tiga kali lipat dari target 5.000 kasus oleh pemerintah.

Terdapat kekhawatiran bahwa kewaspadaan di kalangan warga Eropa atas vaksin dapat menghambat keampuhannya, dengan jajak pendapat yang dipublikasi di Journal du Dimanche, menyebutkan bahwa 56 persen orang Prancis tidak berencana menerima vaksin.

China, yang dituding menutupi-nutupi wabah di awal, sebagian besar berhasil mengekang penyebaran virus di dalam negeri. Pimpinan Komunis mereka mengeluarkan pernyataan yang memuji "kejayaan yang sangat luar biasa" dari penanganan krisis mereka.

Di Turkmenistan pasca Soviet yang otoriter, di mana pemerintah menyatakan bahwa tidak ada kasus virus corona yang terdeteksi, Presiden Gurbanguly Berdymukhamedov mengklaim bahwa akar licorice mampu menyembuhkan COVID-19.

"Licorice mencegah virus corona berkembang," kata mantan dokter gigi, Berdymukhamedov, tanpa mengutip bukti ilmiah apa pun.