UNICEF: Perkuat pendidikan kesehatan dan gizi di sekolah

Nutrition Specialist UNICEF Indonesia Airin Roshita mengatakan bahwa pendidikan kesehatan dan gizi di sekolah perlu diperkuat guna menciptakan generasi penerus bangsa yang unggul dan berkualitas.

"Dalam Trias UKS/M, itu ada pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan sehat. Memang yang harus kita perkuat adalah pendidikan kesehatan, pendidikan gizi," kata Airin dalam webinar Sehat Bergizi dalam rangka Mendukung Revitalisasi UKS/M Kampanye Sekolah Sehat yang diikuti di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan penguatan pendidikan kesehatan dan gizi pada anak-anak dan remaja di sekolah akan berpengaruh positif pada kualitas sumber daya di masa depan.

Baca juga: UNICEF: Hari Minum TTD di sekolah cegah anemia remaja putri

Sebab, kata dia, jumlah anak dan remaja di Indonesia saat ini begitu tinggi. Menurut data Badan Statistika Nasional (BPS) tahun 2021, jumlah anak dan remaja (usia 0-17 tahun) mencapai 79,7 juta orang, 83 persen diantaranya berada pada usia sekolah, yakni 5-17 tahun.

Ia melanjutkan jumlah yang tinggi tersebut membuat Indonesia akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2045, dimana 70 persen penduduk berada pada usia produktif.

"Kalau kita punya bonus demografi, tentu kita tidak mau bonus kita adalah bonus yang sakit-sakitan. Jadi, bonus ini harus jadi bonus yang baik buat negara, dengan menjadikan mereka sehat. Karena, mereka adalah aset kita yang nantinya akan menjadi pemimpin dan pemangku kebijakan di negara ini," ujar Airin.

Untuk itu, menurut dia, pendidikan mengenai kesehatan dan gizi perlu dilakukan sejak usia sekolah dan remaja. Tujuannya agar mereka dapat membiasakan diri untuk mengonsumsi makanan yang bergizi. Apalagi, kebutuhan gizi pada anak usia sekolah dan remaja sangat tinggi.

Berdasarkan berbagai penelitian, katanya, pendidikan gizi dapat meningkatkan pengetahuan siswa di sekolah mengenai gizi dan kesehatan, meningkatkan konsumsi buah dan sayur pada anak usia 8-10 tahun, dan menurunkan konsumsi camilan tinggi garam.

Baca juga: Unicef sebut edukasi menstruasi perlu bagi remaja putri

Baca juga: Unicef gelar lokakarya penanganan gizi buruk terintegrasi

"Intervensi gizi yang multi komponen, termasuk pendidikan gizi yang melibatkan guru dan orang tua efektif meningkatkan pengetahuan dan perilaku siswa," kata Airin.

Jika anak-anak dan remaja sudah paham mengenai pentingnya gizi dan selalu memenuhi asupan gizi setiap hari, kata Airin, akan memutus siklus kekurangan gizi pada keturunannya di masa depan.

"Kalau anak stunting, dia berisiko tumbuh menjadi remaja yang kurang gizi, dia akan menjadi ibu hamil yang kekurangan gizi juga, kemudian berisiko melahirkan anak stunting. Jadi, kalau kita berinvestasi pada gizi dan kesehatan remaja, kita punya tiga manfaat, yaitu kesehatan dan gizi mereka, kesehatan dan gizi mereka saat dewasa, juga kesehatan dan gizi generasi berikutnya," ujar Airin.