Unicef sebut pandemi COVID-19 berdampak PAUD di NTT

Kepala Perwakilan Unicef wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, Yudistira Y Wangoe mengatakan pandemi COVID-19 yang berlangsung selama dua tahun tidak hanya berdampak pada pembangunan sektor kesehatan tetapi juga mempengaruhi proses pertumbuhan anak-anak usia dini.

"Dalam kegiatan konsultasi multi sektor terhadap dukungan Unicef dan pemerintah Jepang untuk program PAUD di Kota Kupang," katanya di Kupang, Jumat.

Dikatakan, ada beberapa aspek yang mempengaruhi pertumbuhan anak selama pandemi COVID-19 yaitu kesempatan anak untuk belajar, terbatasnya akses anak-anak pada layanan kesehatan seperti mendatangi posyandu dan mendapatkan imunisasi lengkap, serta mendapatkan akses pelayanan air bersih dan kebersihan dan akses pelayanan gizi.

Unicef sebagai lembaga PBB yang melindungi hak-hak anak memiliki perhatian yang sangat serius dalam persoalan yang dihadapi anak-anak di daerah.

"Bersama pemerintah Indonesia maka Unicef ingin memperbaiki akses anak-anak terutama anak-anak pada usia pengembangan anak usia dini," kata Yudistira Y Wangoe.

Menurut dia pengembangan anak usia dini menjadi pintu masuk yang efektif untuk pengembangan anak secara dini dari berbagai aspek.

Dia menjelaskan selain asupan gizi yang kurang memadai serta berat dan tinggi badan anak tidak seimbang menyebabkan anak terkategori dalam status anak mengalami kekerdilan.

"Kemampuan kogniktif anak yang mengalami kekerdilan menjadi kurang memadai dalam menyerap ilmu ketika tumbuh menjadi dewasa. Upaya yang perlu dilakukan dalam mencegah kekerdilan terus dilakukan dan Kota Kupang merupakan salah satu daerah yang sangat aktif dalam melakukan upaya penanggulangan kekerdilan anak," kata Yudistira Y Wangoe.

Ia menegaskan salah satu hal yang perlu dilakukan saat ini tentang bagaimana upaya membantu anak-anak yang saat ini tumbuh dalam kondisi dengan kekerdilan dalam meningkatkan kemampuan berpikir anak-anak itu.

"Peran lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) sangatlah dibutuhkan untuk membantu anak-anak yang bertumbuh dalam kondisi kekerdilan sehingga bisa membantu memulihkan kemampuan berpikir anak-anak yang mengalami kekerdilan itu," kata Yudistira Y Wagoe.

Dia menambahkan sudah terbukti pada anak-anak yang mengalami kekerdilan ketika mengikuti pendidikan anak usia dini maka 80 persen anak itu kemampuan kogniktif anak menjadi lebih memadai.

"Kami terus mendorong pendidikan anak usia dini secara holistik dan integratif sehingga semua sektor terlibat aktif dalam mendukung keberadaan pendidikan anak usia dini di NTT," tegasnya.
Baca juga: RI, Jepang dan UNICEF bantu anak pulih dari dampak COVID-19
Baca juga: UNICEF: Perlu intervensi hadapi hilangnya kesempatan belajar
Baca juga: Jepang, UNICEF tingkatkan kapasitas penyimpanan vaksin di Indonesia

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel