Unik, Ada Kopi Berbasis Teknologi Blockchain

Tasya Paramitha, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Banyak orang yang egois ketika menyeruput secangkir kopi. Mereka hanya mementingkan rasa dan aroma. Padahal, mengetahui sejarahnya sambil menyesap kafein akan terasa jauh lebih nikmat.

Konsep inilah yang dihadirkan oleh Kedai kopi Noka Coffee. Mereka meluncurkan inovasi kopi berbasis teknologi blockchain, yang bekerja sama dengan perusahaan teknologi asal Jepang, Emurgo.

CEO Noka Coffee, Panji Abdiandra, mengatakan, teknologi blockchain memungkinkan customer untuk mengetahui perjalanan biji kopi yang mereka konsumsi from farm to cup.

"Yaitu dari petani, kolektor, roaster, hingga diproses oleh barista di kedai. Caranya pun mudah, di mana customer hanya perlu memindai QR Code yang tertera di cup atau kemasan produk," ujarnya saat press conference yang digelar virtual, baru-baru ini.

Panji menambahkan, kata kuncinya adalah apresiasi. Jika kita puas dengan suatu produk kopi, biasanya kita hanya akan memuji sang barista. Padahal faktanya, yang menentukan 60 persen rasa kopi adalah proses di ladang dan 30 persen proses roasting.

"Dengan blockchain, narasi pemberdayaan petani dan setiap individu yang terlibat di hulu tidak lagi sebatas slogan, tapi dapat turut diketahui customer. Semua proses transparan dan traceable," kata dia.

Selain customer experience yang lebih baik, blockchain juga mendorong petani lebih bertanggung jawab dalam menjaga kualitas biji kopi mereka. Hal ini diakui oleh Suryono Bagas Tani, Founder dari Koperasi Petani Alam Korintji (ALKO), sebagai prosesor biji kopi Specialty Arabica Kerinci dari petani untuk Noka Coffee.

"Dengan 600 lebih petani yang kami bina, jika ada buyer tidak puas dengan kualitas produk, sekarang kami dapat segera mencari akar masalah dan lakukan pembenahan baik dengan petani maupun roaster. Blockchain sangat membantu dalam menjaga meningkatkan produktivitas dan menjaga kualitas biji kopi," ujar Suryono.

Dalam era teknologi seperti saat ini, terlebih pada saat pandemi di mana ruang gerak publik semakin terbatas, transparansi supply chain produk pertanian menjadi sebuah keunggulan tersendiri. Meski sudah banyak diadopsi di pasar kopi dunia, hal ini terbilang baru di Indonesia.