Unik Sekaligus Kreatif, Pria Ini Gunakan Lava Gunung Api untuk Memanggang Pizza

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Apabila memanggang pizza dengan oven baik itu elektrik maupun tradisional tentunya sudah menjadi hal yang biasa. Hal ini lazim dilakukan di berbagai restoran yang menjual pizza.

Namun, apa jadinya jika memanggang pizza tidak dioven, melainkan menggunakan cara yang unik yakni dipanggang pada lava gunung berapi? Hal inilah yang dilakukan oleh seorang koki amatir di Guatemala, Spanyol.

Mario David García Mansilla tumbuh besar di kawasan dekat Gunung Api Pacaya, salah satu gunung berapi paling aktif di Guatemala. Meskipun ia tak pernah berpikiran untuk meninggalkan lingkungannya ini, namun ia juga tak pernah membayangkan akan menjadikan gunung berapi tersebut sebagai oven pizza.

Saat ini, Pizza Pacaya, kedai miliknya menjadi sangat populer di kalangan orang-orang yang berwisata ke Gunung Pacaya. Para turis membayar mahal agar Mansilla memasak pai lezatnya tepat di atas batu vulkanik yang membara, tepat di sebelah sungai lava yang mengalir.

Seperti apakah kisahnya? Berikut ulasan selengkapnya dirangkum dari berbagai sumber oleh Liputan6.com, Jumat (16/7/2021).

Dapat ide memasak di gunung

Unik Sekaligus Kreatif, Pria Ini Gunakan Lava Gunung Api Untuk Memanggang Pizza. (Sumber: Instagram/pizzapacayadedavid)
Unik Sekaligus Kreatif, Pria Ini Gunakan Lava Gunung Api Untuk Memanggang Pizza. (Sumber: Instagram/pizzapacayadedavid)

Mario berasal dari San Vicente Pacaya, salah satu dari 21 pemukiman manusia kecil di sekitar gunung berapi Pacaya. Ia pun mengaku selalu terpesona dengan gunung berapi ini, hingga kemudian pada tahun 2014 ia pun mencetuskan ide untuk memasak pizza menggunakan panas dari gunung ini.

Ide ini awalnya tercetus ketika ia menyaksikan sekelompok turis yang memanggang marshmallow di atas lava. Akhirnya, ia pun menyadari bahwa ia dapat memasak di gunung berapi.

Pertama kali mencoba untuk memasak di gunung Pacaya, ia memasak steak hingga merebus ayam. Namun, akhirnya ia pun menyadari bahwa peralatan yang dibawa terlalu banyak dan repot karena harus naik turun gunung. Kemudian dia melihat gua seperti struktur yang terbentuk dari lava kering dan langsung memikirkan pizza.

Pertama kali dia mencoba menggunakan panas yang terpancar dari gunung berapi untuk memasak pizza, Mario membakarnya sampai garing. Yang kedua keluar sama buruknya, tetapi yang ketiga adalah mahakarya yang dimasak dengan sempurna, dengan kerak emas dan dilapisi keju leleh. Dia telah menemukan hidangan yang sempurna untuk dimasak di Pacaya.

Buka kedai pizza

Konten ini tidak tersedia karena preferensi privasi Anda.
Perbarui pengaturan Anda di sini untuk melihatnya.

Mario David García Mansilla membutuhkan waktu kurang lebih 5 tahun untuk mengubah kecintaannya pada pizza menjadi sebuah bisnis, dan Pizza Pacaya akhirnya dibuka pada tahun 2019. Untungnya, tidak butuh waktu lama untuk idenya agar bisa terealisasi. Kini, Mario hampir mendaki gunung berapi setiap hari, sembari membawa ransel berisi sekitar 60 pon peralatan dan bahan-bahan, untuk memasak pizza untuk turis.

Mario memiliki dua cara untuk memasak pizza vulkaniknya. Pertama, ia menempatkan nampan di salah satu gua yang memiliki bentuk seperti oven raksasa di Pacaya. Kedua, ia meletakkannya di atas lava yang mengeras di sebelah sungai batu yang meleleh dengan aliran lambat. Untuk cara kedua, ia akui memang lebih repot karena ia harus menggunakan sepatu bot ala militer agar dapat menghalau panas.

Dengan ratusan orang mengunjungi gunung berapi Pacaya setiap hari, Pizza Pacaya hampir tidak pernah sepi pelanggan, dan Mario puas dapat menambah penghasilannya dan memuaskan hasratnya akan seni kuliner.

Jadi berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memasak pizza di gunung berapi aktif? Nah, menurut Masilla, panasnya begitu hebat sehingga setiap baki membutuhkan waktu tidak lebih dari 10 menit untuk memasak.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel