Unilever Ungkap 8 Perubahan Prilaku Konsumen karena Pandemi

Raden Jihad Akbar
·Bacaan 3 menit

VIVAPandemi COVID-19 mengubah prilaku konsumen di Indonesia saat ini. Prilaku baru konsumen khususnya dalam berbelanja itu pun diperkirakan akan tetap bertahan meski pandemi telah usai.

Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk Ira Noviarti menyatakan, perubahan prilaku itu tak lain karena perekonomian yang terkontraksi akibat pandemi. Ditambah, pembatasan mobilitas selama setahun ke belakang, berpengaruh besar dalam perubahan tersebut.

"Kami memprediksi, setidaknya delapan perubahan perilaku konsumen akan terus bertahan bahkan setelah pandemi berakhir," ujar Ira dalam Indonesia Data and Economic Forum (IDE) 2021, pada sesi diskusi bertajuk 'New Trends in Consumer Behaviour after Covid', dikutip Rabu 24 Maret 2021.

Ira menjabarkan, perubahan prilaku konsumen ini menunjukkan urgensi dari pelaku industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG) seperti Unilever Indonesia. Untuk, terus gesit merespons perubahan perilaku konsumen dan memanfaatkan momentum yang ada.

Baca juga: BI Dorong Sekuritisasi Aset Jadi Sumber Pendanaan Selain Bank

“Kehadiran Unilever Indonesia di IDE 2021 adalah salah satu bentuk semangat kami untuk terus menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak guna menyongsong era pemulihan pascapandemi," ungkapnya.

"Ditambah lagi, fakta menyebutkan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi tertinggi dengan menyumbang 57,6 persen dari Produk Domestik Bruto. Dengan skala yang kami miliki, kami siap untuk terus memainkan peran kami dalam mendorong konsumsi masyarakat menuju kebangkitan perekonomian nasional,” sambung Ira.

Dia menjabarkan, 8 perubahan perilaku konsumen yang diperkirakan akan bertahan dalam jangka waktu panjang dan saling terkait satu sama lain adalah.

1. Gaya hidup bersih dan sehat

Kesehatan akan tetap menjadi perhatian konsumen, tidak hanya di dalam tetapi juga di luar rumah sebagai bentuk proteksi diri. Brand yang terpercaya dan berkualitas akan semakin dicari.

2. Semua aspek keseharian menjadi lebih fluid

Oleh karena itu konsumen akan mencari produk yang membantu mereka tetap produktif di dalam rumah, dan produk yang dapat melindungi diri mereka secara efisien dan praktis di luar rumah.

3. In home romance atau in home experience menjadi semakin penting

Setelah setahun beraktivitas dari rumah, konsumen mencari cara dan produk agar tidak bosan dan terus menjaga kesehatan mental di rumah.

4. Komunitas yang lebih kuat

Pandemi telah memperkuat rasa solidaritas kita sebagai bangsa. Dukungan untuk wirausaha lokal semakin banyak, komunitas yang ada di masyarakat juga semakin banyak.

5. Fenomena reverse maslow

Kebutuhan psikologis dan rasa aman termasuk lingkungan yang sehat dan higienis, dan juga keamanan finansial adalah prioritas utama konsumen.

6. Konsumen semakin teliti akan konsumsi dan pembelian yang mereka lakukan

Konsumen kini lebih mencari value dan bukan harga semata.

7. Gaya hidup serba digital

Internet tidak hanya membantu konsumen untuk membeli secara online tetapi juga untuk menjual dan berkegiatan. Hal ini akan terus belanjut di masa depan karena konsumen sudah mulai terbiasa menggunakan platform online dan digital dalam semua jenis kegiatan.

8. Lahirnya smart opportunist

Social selling terutama dari media sosial meningkat, mulai dari barang-barang yang berhubungan dengan perlindungan kesehatan, hingga makanan/minuman.

Dia pun menegaskan, Unilever percaya bahwa keberlanjutan bisnis harus sejalan dengan manfaat yang diberikan untuk masyarakat dan lingkungan. Karena itu di masa pandemi, komitmen untuk selalu bersama Indonesia kami wujudkan melalui kampanye #MariBerbagiPeran yang menaungi berbagai macam inisiatif untuk untuk mendukung masyarakat.

"Alhamdulillah kami dapat menyalurkan bantuan senilai lebih dari Rp200 miliar secara bertahap sejak awal pandemi, baik secara independen maupun melalui kolaborasi dengan berbagai mitra di seluruh Indonesia," tambahnya.

Lebih lanjut menurutnya, inovasi pun terus dilakukan oleh Unilever untuk mengakomodir perubahan prilaku konsumen tersebut. Misalnya dalam transformasi digital, hal ini telah diterapkan ke seluruh rantai nilai Perusahaan jauh sebelum pandemi berlangsung.

“Kami melipat gandakan kegesitan dalam berinovasi sejak awal pandemi. Di tahun 2020 setidaknya kami melahirkan 40 inovasi produk untuk menjawab kebutuhan pelanggan dan konsumen kami yang terus berubah, terutama dalam hal permintaan dan pola belanja,” ujarnya.