Universitas Brawijaya teliti manajemen sampah makanan Kota Malang

Sejumlah mahasiswa dari Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan penelitian terkait dengan pola konsumsi dan manajemen sampah makanan di Kota Malang, Jawa Timur yang berperan sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK).

“Harapannya, penelitian ini mampu membawa Tim PKM RSH FP UB lolos menuju PIMNAS ke-35, karena topik yang diangkat sesuai dengan permasalahan yang terjadi saat ini,” kata Wakil Dekan III Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Hagus Tarno dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.

Penelitian tersebut melibatkan lima mahasiswa Fakultas Pertanian UB, yakni Zulfikar Dabby Anwar, Sekar Agatha Wulansari, Dely Dahlia, Aisya Rahma, dan Muhammad Dimas Priyastomo.

Baca juga: Kerja sama penelitian dijalin UNIS-Universitas Brawijaya

Penelitian dilakukan oleh tim dengan turun ke dua titik kecamatan, yakni Kecamatan Sukun dan Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur untuk meneliti pola perubahan konsumsi serta manajemen sampah makanan yang diterapkan oleh masyarakat maupun UMKM di kecamatan tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, pola konsumsi masyarakat Kota Malang mengalami peningkatan sebanyak 58 persen, karena penyediaan stok dan konsumsi makanan. Dengan rincian, 35 persen menunjukkan stagnan dan tujuh persen menunjukkan pola konsumsi pangan mengalami penurunan, karena adanya penurunan dan pembatasan konsumsi.

Sedangkan penerapan manajemen sampah makanan di rumah tangga Kota Malang memiliki indikator tahapan berupa memasak, memakan, dan pembuangan sampah masuk dalam kategori baik.

Sementara indikator perencanaan, berbelanja, menyimpan, dan mengolah sisa tergolong kategori cukup. Kemudian indikator pemulihan energi tergolong tidak baik. Salah satu faktor penyebabnya adalah kesibukan dalam rumah tangga.

Hagus menambahkan penelitian digelar sebagai solusi alternatif dalam memitigasi terjadinya perubahan iklim. Adapun inovasi penelitian akan direalisasikan lewat Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) yang diselenggarakan oleh Kemdikbudristek di bawah bimbingan Neza Fadia Rayesa, S.TP., M.Sc.

Selain memitigasi perubahan iklim, aktivitas pemborosan makanan (food waste) menjadi perhatian global karena dampak ancamannya bagi ketahanan pangan nasional.

Baca juga: Limbah biogas disulap jadi "paprika manjur"

Baca juga: Mahasiswa UB buat pupuk bio organik dari limbah makanan dan ternak

Menurut data Kementerian Pertanian tahun 2019, jumlah sampah makanan di Indonesia sudah mencapai 300 kilogram per orang per tahun. Rumah tangga menyumbang 47 persen dari total sampah makanan yang ada.

“Adanya perubahan pola perubahan konsumsi masyarakat, juga menjadi faktor pendukung permasalahan food waste di Indonesia,” katanya.

Hagus berharap penelitian yang dilakukan dapat memberikan sumbangsih berupa pengetahuan baru terkait aktivitas konsumsi masyarakat dan implementasi pengelolaan sampah makanan dalam rumah tangga.

“Selain itu, juga mampu menjadi acuan dalam menerapkan ekologi literasi, serta strategi mitigasi sebagai bentuk adaptasi perubahan iklim yang sedang terjadi,” kata Hagus.