Unjuk rasa Hong Kong perjuangkan hak pemungutan suara dan dukungan internasional

Hong Kong (AP) - Lebih dari seribu orang menghadiri aksi unjuk rasa di Hong Kong pada Minggu untuk mendesak orang dan pemerintah di luar negeri guna mendukung gerakan pro-demokrasi kota itu dan menentang Partai Komunis China yang berkuasa.

Perwakilan dari kelompok aktivis sekutu dari Kanada, Eropa dan Taiwan membuat pernyataan dan memimpin para peserta dengan teriakan “Berjuang untuk kebebasan! Dukung Hong Kong!"

Para pembicara juga merayakan hasil pemilihan pada Sabtu di Taiwan yang menyaksikan Tsai Ing-wen dari Partai Progresif Demokratik terpilih untuk masa jabatan kedua dengan suara mayoritas.

Protes anti-pemerintah selama berbulan-bulan di Hong Kong, wilayah semi-otonomi China, telah membuat banyak orang di Taiwan menyadari perbedaan antara pulau mereka yang diperintah secara demokratis dan daratan China yang otoriter.

"Orang Taiwan menunjukkan betapa damai jika kita memiliki demokrasi," kata penyelenggara aksi Ventus Lau.

"Dan kita harus memahami bahwa Taiwan berjuang keras dalam beberapa dekade sebelumnya sehingga mereka dapat memiliki kekuatan ini hari ini," kata Lau. "Jadi jika kita ingin memiliki demokrasi seperti mereka, kita harus berjuang keras dan melanjutkan perjuangan kita melawan Partai Komunis."

Bekas koloni Inggris, Hong Kong dikembalikan ke China pada 1997. Di bawah kerangka kerja "satu negara, dua sistem," kota itu menikmati hak-hak demokratis yang lebih besar daripada yang ada di daratan, tetapi para pengunjuk rasa mengatakan bahwa kebebasan itu terus terkikis di bawah Presiden China Xi Jinping.

Seorang siswa berusia 20 tahun pada aksi tersebut yang memiliki nama belakang Lee mengatakan warga Hong Kong harus memiliki hak untuk memilih pemimpin mereka.

"Kepala eksekutif saat ini (Carrie Lam) tidak dipilih oleh semua warga Hong Kong," kata Lee. "Jadi meskipun warga Hong Kong menginginkan kepala eksekutif untuk mengundurkan diri atau melakukan apa pun, kepala eksekutif dapat mengabaikan suara kami, dan mendengarkan saja apa yang dikatakan Beijing. "

Hak pilih universal adalah salah satu dari lima tuntutan yang diadvokasi para demonstran, bersama dengan investigasi independen terhadap dugaan kebrutalan polisi.