Unjuk rasa rugikan wisata Hong Kong

Hong Kong (AP) - Jumlah pengunjung ke Hong Kong turun hampir 40% pada paruh kedua tahun lalu di tengah bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa anti-pemerintah.

Badan Pariwisata Hong Kong mengatakan pada Rabu bahwa jumlah mereka yang mengunjungi pusat keuangan Asia itu mulai menurun pada bulan Juli ketika protes terhadap usulan undang-undang yang memungkinkan ekstradisi ke China dimulai.

Selama enam bulan terakhir tahun 2019, jumlah pengunjung turun 39% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, tingkat kedatangan turun 14% sepanjang tahun. Protes telah kehilangan momentum di tengah penangkapan massal oleh polisi dan sejak oposisi mencatan kemenangan besar dalam pemilihan dewan distrik pada bulan November.

Ekonomi Hong Kong jatuh ke dalam resesi. Reputasinya sebagai salah satu kota teraman di dunia dinodai oleh aksi kekerasan yang sebagian besar didorong oleh kemarahan atas dugaan peningkatan kendali China atas hak-hak yang dipertahankan oleh bekas jajahan Inggris itu ketika Beijing mengambil kendali di 1997. Undang-undang ekstradisi dicabut, tetapi gerakan protes berubah dengan memasukkan tuntutan untuk demokrasi yang lebih besar dan penyelidikan perlakuan polisi.

Menteri Keuangan Paul Chan mengatakan pada forum Senin bahwa pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi untuk 2019 akan turun menjadi -1,3%, kerugian besar bagi pusat perdagangan, perjalanan, dan keuangan itu.

Industri pariwisata, katering, dan ritel mengalami kerugian terbesar, dengan pendapatan toko turun 26% pada Oktober dan November dibandingkan bulan yang sama pada 2018.

Namun, ketua dewan pariwisata Y.K. Pang dikutip mengatakan dalam siaran pers Rabu bahwa ia memiliki "kepercayaan diri" pada ketahanan dan daya tarik Hong Kong sebagai tujuan perjalanan kelas dunia. Dewan mengatakan telah meluncurkan acara promosi dan penawaran khusus yang mencakup hotel, penerbangan, belanja dan atraksi.

Dalam tanda lebih lanjut dari tekanan yang menekan kota itu, Menteri Urusan Dalam Negeri Lau Kong-wah mengumumkan pembatalan acara kembang api Tahun Baru Imlek tahunan "berdasarkan keprihatinan keselamatan publik." Liburan Tahun Baru adalah acara yang paling penting di antara Komunitas China di seluruh dunia dan tahun ini peristiwa itu jatuh pada 25 Januari.