Upah Buruh Tak Bisa Langsung Naik Meski Inflasi Tinggi Akibat Kenaikan Harga BBM

Merdeka.com - Merdeka.com - Rencana pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi perhatian masyarakat. Sebab, kenaikan harga BBM dikawatirkan tidak memberi berpengaruh kepada upah para pekerja dan kenaikan Upah Minimum Regional (UMR).

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy mengatakan, UMR sudah ditetapkan di awal tahun dan itu juga termasuk pada pertimbangan banyak faktor, salah satunya adalah inflasi. Menurut dia, apabila inflasi mengalami kenaikan maka seharusnya UMR juga harus mengalami kenaikan sebagaimana inflasi yang terjadi.

Namun demikian, tidak semua industri dapat melakukan penyesuaian tersebut. Apalagi jika ada industri yang belum mampu atau dalam kondisi yang tidak cukup perform. Sehingga relatif sulit untuk menunaikan kewajiban terkait gaji para buruh ini.

"Tetapi ini yang kemudian saya kira perlu diawasi dan dicarikan solusi bersama agar para pekerja yang bekerja di industri ini mendapatkan semacam perhatian khusus. Entah itu dalam bentuk bantuan ataupun insentif pekerja," ucap Yusuf, kepada Merdeka.com, Jakarta, Rabu (31/8).

Gaji Tak Bisa Langsung Naik

Sementara, Ketua Komite Analisis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Ajib Hamdani, menyatakan kenaikan gaji tidak bisa serta merta dilakukan, karena sisi regulasi secara standar telah mengatur UMR dan tidak bisa dilakukan perubahan di tengah tahun.

"Jadi pengusaha tetap akan melihat perkembangan yang ada," terang Ajib, kepada Merdeka.com, Jakarta, Rabu (31/8).

Kendati demikian, Ajib menjelaskan untuk jangka pendek, daya beli masyarakat akan ditopang oleh program pemerintah melalui bantuan sosial (Bansos). "Ini langkah pragmatis untuk tetap menjaga kesimbangan ekonomi di masyarakat," kata dia. [idr]