Upal Asal Bojonegoro Beredar di Masa Pandemi, Nilainya Mencapai Rp 3,8 Miliar

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta Peredaran Uang Palsu (Upal) yang diproduksi di Bojonegoro, nampaknya ramai di masa pandemi Covid-19. Hal tersebut terbukti dengan ditangkapnya lima pelaku yang telah menjalankan bisnis terlarangnya hingga 10 bulan terakhir.

Lima tersangka itu yaitu ASP (63) warga Dusun Sugian, Desa Sugian, Kecamatan Kabupaten Lombok. AAP alias Gus Ali (44) warga Dusun Kepel, Desa Kepel, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. AUW (57) warga Dusun Mojosari, Desa Mojotengah, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang.

Selanjutnya, AS (37) warga Dusun Jemblok, Desa Sumo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang dan JS (56) warga Jalan Mulawarman, Desa Pangeran, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan.

"Polresta Banyuwangi dibantu Ditreskrimsus Polda Jawa Timur, pada 16 September 2021, berhasil mengungkap peredaran uang palsu (upal) di wilayah setempat," ujar Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Gatot Repli Handoko, Kamis (7/10/2021).

Gatot mengungkapkan, kelima tersangka ditangka di rest area pom bensin Kalibaru, Dusun Krajan Tegal Pakis, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi.

"Pengungkapan ini setelah adanya informasi dari masyarakat, bahwa ada mata uang pecahan Rp 100 ribu, yang diedarkan di pom bensin tersebut," ucap Gatot di Mapolda Jatim.

Dari pengungkapan ini, Gatot mengatakan, batang bukti upal yang diamankan pecahan Rp 100 ribuan sebanyak 37.371 lembar dengan nilai Rp 3,8 miliar. Dan para tersangka ini membuat sendiri dengan menggunakan mesin yang mereka siapkan.

"Uang palsu ini diproduksi di Bojonegoro, yang diedarkan di wilayah Jawa Timur, seperti di Banyuwangi dan Mojokerto," ujarnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel