Upaya membangun pabrik minyak goreng di Mukomuko

Kabupaten Mukomuko dikenal sebagai produsen kelapa sawit terbesar di Provinsi Bengkulu. Dari sekitar 210 ribu hektare tanaman sawit berada di kabupaten tersebut, sedangkan sisanya tersebar di kabupaten/kota lain.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu, Kabupaten Mukomuko berkontribusi sekitar 106 ribu ton dari 190 ribu ton per tahun produksi kelapa sawit di provinsi ini.

Selain Mukomuko, seluruh kabupaten/kota di daerah ini terdapat lahan kelapa sawit dengan luas yang bervariasi, seperti Kabupaten Bengkulu Selatan, Rejang Lebong, Bengkulu Utara, Kau, Seluma, Lebong, Kepahiang, Bengkulu Tengah dan Kota Bengkulu.

Mukomuko adalah kabupaten di Provinsi Bengkulu, sebagai pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Utara. Kabupaten Mukomuko di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, di sisi timur berbatasan dengan Kabupaten Kerinci, Samudra Hindia di sebelah barat dan Kabupaten Bengkulu Utara di selatan.

Dengan potensi perkebunannya, khususnya kelapa sawit, maka Pemerintah Kabupaten Mukomuko, sangat mendukung warganya untuk mengembangkan pengolahan kelapa sawit, tidak hanya sebatas hingga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) tetapi menjadi minyak goreng, meskipun skala kecil.

"Kita mendukung warga yang menciptakan mesin pengolah tandan buah segar (TBS) kelapa sawit menjadi CPO untuk mendirikan pabrik mini pembuatan minyak goreng," kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Mukomuko, Hariyanto.

UKM dan Bumdes

Tekad untuk dapat mendirikan pabrik minyak goreng di daerah Mukomuko tidak terlepas dari adanya warga setempat yang telah berhasil menciptakan teknologi tepat guna berupa mesin pengolah TBS kelapa sawit menjadi minyak mentah kelapa sawit atau CPO.

Bahkan, mesin mini pengolahan TBS kelapa sawit menjadi CPO ini menjadi pemenang terbaik kedua dalam lomba teknologi tepat guna tingkat Provinsi Bengkulu.

Oleh karena itu, warga yang telah berhasil membuat inovasi ini diharapkan bisa mengembangkan lebih lanjut, sehingga daerah ini selain memiliki industri hulu berupa pabrik kelapa sawit juga Industri hilir berupa pabrik pembuatan minyak goreng.

Namun demikian, sebelum berdiri pabrik minyak goreng harus didukung dengan banyaknya usaha kecil menengah (UKM) di daerah ini yang memiliki mesin pengolahan tandan buah segar kelapa sawit menjadi minyak mentah kelapa sawit sebagai pemasok bahan baku minyak goreng.

Selain UKM, setiap pemerintah desa melalui BUMDes bisa memiliki usaha alternatif, yakni pengolahan tandan buah segar kelapa sawit menjadi CPO.

Melalui usaha pengolahan tandan menjadi minyak mentah kelapa sawit dan usaha tersebut, BUMDes dapat memperoleh untung.

Untuk itu, pemerintah desa bisa memanfaatkan sebagian Dana Desa untuk membangun usaha pengolahan tandan buah segar kelapa sawit menjadi minyak mentah kelapa sawit.

"Sampai sekarang di Mukomuko ini masih banyak tersedia bahan baku untuk membuat minyak mentah kelapa sawit. Untuk itu, usaha pengolahan minyak mentah kelapa sawit sangat menjanjikan," kata Hariyanto.

Berdasarkan pengalaman

Rifriadi, salah seorang warga Kecamatan Penarik, Kabupaten Mukomuko, berhasil menciptakan teknologi tepat guna untuk pengolah tandan buah segar kelapa sawit menjadi CPO. Keberhasilannya tersebut berkat pengalamannya selama 23 tahun bekerja sebagai asisten bagian perawatan (maintenance) di dua pabrik kelapa sawit di daerah ini.

Rifriadi telah bekerja selama 18 tahun sebagai asisten perawatan di pabrik kelapa sawit milik PT Agro Muko, kemudian selama lima tahun di PT Usaha Sawit Mandiri (USM).

Da menciptakan mesin pengolah TBS kelapa sawit menjadi CPO ini karena dua tahun yang silam harga TBS kelapa sawit milik petani setempat anjlok di harga Rp700 hingga Rp800 per kg. Karena harga sawit anjlok, banyak orang tidak mau panen,

Padahal, harga CPO dunia pada saat itu tinggi, tetapi harga jual TBS kelapa sawit di tingkat pabrik minyak kelapa sawit di daerah ini turun hingga membuat petani menjerit. Kemudian ada fenomena minyak goreng hilang dari pasaran di daerah tersebut.

Untuk itu, kemudian muncul inspirasi untuk membuat mesin pengolah TBS kelapa sawit menjadi CPO. Selanjutnya, membuka kemitraan dan pembeli (buyer) mendukung, sehingga mitra menjadi banyak.

Mesin yang lama dibuat Rifriadi sudah berjalan empat bulan. Selain itu, mesin buatannya juga sudah dikirim keluar kota seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatera Barat, Kuala Tungkal, dan Riau. Ada sebanyak 10 unit mesin pengolahan tandan buah segar kelapa sawit menjadi CPO yang telah dipasarkan ke berbagai provinsi.

Sedangkan harga mesin mini tersebut bervariasi sesuai dengan kapasitas mesin mulai dari harga Rp53 juta hingga Rp224 juta per unit, karena

mesin yang dibuatnya itu inovasi sendiri skala industri dan usaha kecil menengah.

"Kita membuat mesin ini untuk membantu masyarakat dan usaha kecil menengah (UKM) di daerah ini. Makanya ada pilihan harga yang termurah hingga yang termahal atau sesuai 'budget' atau anggaran," ujarnya.

Sementara itu, sebanyak lima unit mesin pengolahan tandan buah segar kelapa sawit menjadi minyak mentah kelapa sawit yang beroperasi di daerah ini. Di Kabupaten Mukomuko sudah dibangun lima pabrik kelapa sawit mini, dan dalam waktu dekat akan ada lagi pembukaan pabrik kelapa sawit mini di wilayah Bukit Damri, di Kecamatan Penarik.

Daerah ini membutuhkan sebanyak 10-15 pabrik CPO mini, selanjutnya diusulkan membangun pabrik "refinery" minyak goreng di daerah ini kepada pemerintah pusat.​​​​​​​ Kabupaten Mukomuko diharapkan mempunyai pabrik "refinery" minyak goreng dan mempunyai minyak goreng kemasan sendiri.

Pemasaran CPO

Untuk sementara ini pembeli minyak mentah kelapa sawit tersebut adalah pembeli dari Dumai dan Pekan Baru yang membutuhkan minyak tersebut untuk membuat minyak goreng curah.

Rifriadi kini juga membangun kemitraan dengan perusahaan refinery minyak goreng yang membutuhkan minyak mentah kelapa sawit yang diproduksi oleh UKM di daerah ini.​​​​​​​ Harga jual minyak mentah kelapa sawit dari daerah ini sesuai dengan harga CPO dunia, biasanya berkisar Rp7.600 hingga Rp8.000 per kg.

Terkait dengan CPO yang belum bisa terjual keluar daerah, pihaknya memiliki tangki yang bisa digunakan untuk menyimpan CPO dengan kapasitas 500 kg. Biasanya CPO tersebut disimpan selama seminggu, setelah itu CPO tersebut dijual keluar daerah.

CPO tersebut selain untuk bahan baku pembuatan minyak goreng, di Surabaya dan Dumai sudah berdiri perusahaan yang bersedia membeli CPO dengan kadar asam tinggi. "Kita manfaatkan minyak mentah kelapa sawit dari daerah ini, karena oktan lebih tinggi," kata Rifriadi.

Masyarakat Mukomuko sangat berharap segera beroperasi unit produksi pengolah kelapa sawit menjadi produk-produk turunannya sehingga mereka dapat memetik nilai tambah dari tanaman kelapa sawit yang dibudidayakannya.