Upaya Pemerintah Menggenjot UMKM dan Daya Beli di Tengah Pandemi Covid-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah optimis ekonomi bangkit hingga mencapai di atas 5 persen di 2021, di tengah pandemi COVID-19. Di mana, agar roda bisnis terus berjalan di Indonesia, pemerintah memberikan stimulus berupa berbagai paket kebijakan.

Stimulus yang memudahkan dan merangsang usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) agar bisa bertahan di tengah pandemi sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.

Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian Koperasi dan UKM, Eddy Satriya, menyampaikan jika dari beberapa survei, terlihat adanya pemulihan ekonomi terutama setelah digelontorkan Bantuan Presiden Produktif Usaha Mikro 2020 lalu.

“Bantuan tersebut membuat usaha mikro mendapat tambahan modal untuk berusaha. Perbaikan juga terjadi di sisi daya beli masyarakat melalui beberapa paket kebijakan pemerintah,” paparnya dalam Dialog Produktif bertema “Menuju Sembuh, Ekonomi Tumbuh” yang diselenggarakan KPCPEN dan disiarkan FMB9ID_IKP, Rabu (24/3/2021).

Sementara itu, Piter Abdullah, Pengamat Ekonomi menyebutkan pertumbuhan ekonomi dinilai positif tidak hanya dari satu sudut pandang.

“Tetapi kita menilai sejauh apa program-program pemerintah mampu meningkatkan ketahanan masyarakat dan ketahanan dunia usaha,” terangnya.

Dia juga menyarankan agar semua elemen masyarakat perlu saling bergotong royong untuk mencapai kondisi yang ideal bagi pertumbuhan ekonomi.

“Kita sepakat memang pemerintah merespon pandemi ini dengan kebijakan yang baik. Kalau kita lihat, semua bahu-membahu menghadapi dampak pandemi ini,” ujarnya.

Aidil Akbar, Financial Planner mengatakan jika strategi pemerintah sudah baik, ini suatu terobosan khususnya bagi Kementerian Koperasi dan UMKM.

"Memang kita perlu untuk mendongkrak daya beli masyarakat. Selain itu, pandemi juga memang meningkatkan persentase pelaku usaha mikro baru, yang karena kondisi membuat seseorang menjadi berusaha di masa pandemi,” jelasnya.

Aidil berpandangan, upaya menggenjot konsumsi masyarakat kelas menengah Indonesia perlu didukung oleh pemenuhan faktor keamanan.

“Kondisi saat ini masih banyak kelompok masyarakat kelas menengah ke atas yang menahan konsumsi karena dua hal, belum merasa aman secara kesehatan maupun secara finansial,” terang Aidil Akbar.

Komitmen

Warga menyelesaikan pembuatan baju di sebuah usaha konveksi milik Enca di Desa Curug, Bogor, Jawa Barat, Kamis (4/3/2021). Di tengah pandemi covid-19 yang menyebabkan bisnis konveksi menurun, UMKM konveksi di desa ini mampu bertahan dan mengembangkan produksinya. (merdeka.com/Arie Basuki)
Warga menyelesaikan pembuatan baju di sebuah usaha konveksi milik Enca di Desa Curug, Bogor, Jawa Barat, Kamis (4/3/2021). Di tengah pandemi covid-19 yang menyebabkan bisnis konveksi menurun, UMKM konveksi di desa ini mampu bertahan dan mengembangkan produksinya. (merdeka.com/Arie Basuki)

Dari sisi pemerintah, Eddy Satriya menyampaikan komitmen mendukung UMKM berjuang di masa pandemi.

“Telah menjadi kebijakan pemerintah, terutama Kemenkop UMKM untuk mendukung secara menyeluruh, agar pemberdayaan, kemudahan, dan perlindungan usaha bagi UMKM terlaksana secara baik dalam koridor perundang-undangan dan paket kebijakan strategis,” ujarnya.

Selain itu Eddy Satriya menyampaikan, “Kita akan memberikan peluang untuk Bantuan Langsung Tunai UMKM akan menerima pendaftar lama dan pendaftar baru. Karena diharapkan mereka bisa meneruskan usaha mereka.”

“Kita usahakan tetap memaksimalkan bantuan-bantuan yang ditujukan UMKM agar cepat pencairannya. Kita perlu mentransformasi usaha-usaha informal masyarakat menjadi usaha formal. Karena inilah yang akan membuka lapangan usaha baru dan menciptakan permintaan,” dia menandaskan.