Upaya Tracing COVID-19 di Puskesmas Belum Optimal, Jumlah SDM Masih Jadi Kendala

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa pemanfaatan puskesmas untuk tracing atau pelacakan COVID-19 secara masif di Indonesia sedikit terlambat dan masih belum optimal.

Direktur Pelayanan Kesehatan Primer Kemenkes Saraswati mengatakan, di awal pandemi COVID-19, penguatan di layanan kesehatan memang lebih terfokus pada rumah sakit baik dari sisi alat kesehatan, tenaga, hingga rumah sakit darurat.

"Untuk tracing yang dilakukan secara masif, seperti yang dilakukan negara lain yang relatif lebih berhasil, kita pada awal-awal terjadinya pandemi memang tidak berpikir ke arah situ," kata Saraswati dalam sebuah diskusi virtual pada Jumat pekan lalu, ditulis Senin (9/11/2020).

Menurut Saraswati, sebelumnya pelacakan memang lebih difokuskan kepada orang-orang yang sudah dinyatakan positif COVID-19 dan mereka yang menjadi kontak erat.

"Ternyata untuk membuat tracing yang masif itu, sumber daya yang ada di puskesmas bervariasi. Jadi untuk tracing yang secara massal dan representatif, membutuhkan juga tenaga-tenaga tambahan."

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita

Pemberian Materi Bagi Puskesmas

Saraswati mengakui bahwa pemenuhan tenaga pelacakan kontak di puskesmas belum dilakukan di enam bulan pandemi COVID-19. Namun, beberapa waktu yang lalu, telah dibuka rekrutmen bagi relawan yang ingin membantu untuk berdaya guna di puskesmas.

Meski begitu, Saraswati mengatakan bahwa mereka telah melakukan sosialisasi terkait COVID-19 untuk tenaga kesehatan di puskesmas secara daring.

"Namun mungkin karena secara Zoom dan waktunya sangat pendek, sehingga ilmu atau materi yang terserap tidak adekuat diterima teman-teman puskesmas," ujarnya.

Selain itu, tenaga kesehatan di rumah sakit juga diakui lebih mendapatkan materi terkait COVID-19 yang lebih intens dibandingkan puskesmas. Hal ini didasarkan anggapan karena mereka adalah pertahanan terakhir dalam pandemi ini.

Survei CISDI

Petugas Puskesmas melakukan swab test terhadap warga di Balai RW 20, Villa Dago, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (17/7/2020). Swab test gratis yang dilakukan seiring meningkatnya kasus COVID-19 tersebut diikuti 200 warga dari beberapa RW di Benda Baru. (merdeka.com/Dwi Narwoko)
Petugas Puskesmas melakukan swab test terhadap warga di Balai RW 20, Villa Dago, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (17/7/2020). Swab test gratis yang dilakukan seiring meningkatnya kasus COVID-19 tersebut diikuti 200 warga dari beberapa RW di Benda Baru. (merdeka.com/Dwi Narwoko)

Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI), terungkap bahwa mengungkapkan 47 persen puskesmas responden ditemukan hanya melakukan penelusuran ke kurang dari 5 kontak per setiap kasus positif COVID-19.

Hanya 7 persen yang menyebut telah melakukan pelacakan kepada 16 sampai 20 orang dan hanya 5 persen yang telah melacak ke lebih dari 20 kontak.

Selain itu, sebanyak 45,4 persen puskesmas belum mendapatkan pelatihan tentang pengendalian dan pencegahan infeksi COVID-19.

"Melihat masih adanya gap dalam pengetahuan, maka sosialisasi pedoman dan pencegahan COVID ke puskesmas seluruh Indonesia secara reguler itu penting," kata Olivia Herlinda, Direktur Kebijakan CISDI di diskusi yang sama.

Ia menambahkan akses informasi di setiap wilayah di Indonesia tidaklah sama, selain itu ilmu terkait pandemi terus berubah dan berkembang secara dinamis. Maka dari itu, pelatihan bagi pekerja puskesmas secara rutin dinilai penting.

Infografis Tes Massal Deteksi Corona Covid-19

Infografis Tes Massal Deteksi Corona Covid-19 (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Tes Massal Deteksi Corona Covid-19 (Liputan6.com/Triyasni)

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini