Usaha kerajinan tenun warga Badui kembali menggeliat

·Bacaan 2 menit

Usaha kerajinan tenun tradisional masyarakat Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten kembali menggeliat dan permintaan pasar cenderung meningkat.

"Sejak dua pekan terakhir permintaan kain tenun meningkat dari biasanya satu potong, kini menjadi 10 potong kain tenun per pekan, " kata Ambu Silvi (35) seorang perajin tenun warga Badui di kediamannya di Kampung Kadu Ketug Desa Kanekes Kabupaten Lebak, Jumat.

Permintaan sebanyak 10 potong kain tenun Badui itu bisa menghasilkan pendapatan Rp1,3 juta, dari sebelumnya pendapatan hanya Rp130 ribu/pekan.

Meningkatnya permintaan kain tenun Badui dapat menggairahkan kembali pertumbuhan ekonomi masyarakat adat.

Sebab, pelaku kerajinan tenun Badui cukup banyak tersebar di perkampungan masyarakat Badui.

"Kerajinan tenun Badui diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi mereka, " katanya.
Baca juga: Baju adat Badui dan diplomasi kultural ala Jokowi

Baca juga: Gunakan medsos untuk pemasaran, permintaan kain tenun Badui meningkat

Begitu juga perajin kain tenun Badui, Neng (45) warga Kadu Ketug Kabupaten Lebak mengaku permintaan pasar cenderung meningkat setelah pemerintah kembali membuka kawasan wisata dengan menurunnya kasus penyebaran COVID-19.

Kepala Seksi Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak, Sutisna mengatakan pemerintah daerah hingga kini masih melakukan pembinaan dan pelatihan guna meningkatkan mutu dan kualitas, di antaranya menggunakan bahan baku baku benang dari Majalaya, Bandung.

Selain itu juga bahan baku pewarna,corak dan motif dari pepohonan dan dedaunan yang alami.

Pembinaan kerajinan Badui itu dilakukan secara bertahap karena jumlah perajin sekitar 420 unit usaha tenun Badui dan memberikan dampak positif bagi penduduk sebanyak 10.600 jiwa.

Selama ini, perajin kain masyarakat Badui dikerjakan secara peralatan manual tanpa mesin dan mereka mengerjakan satu potong kain tenun Badui berukuran 2x3 meter persegi mencapai dua hari.

Keunggulan kain tenun Badui itu banyak corak warna dan motif berbeda di antaranya poleng hideung, poleng paul, mursadam, pepetikan, kacang herang, maghrib, capit hurang, susuatan, suat songket dan semata (girid manggu, kembang gedang, kembang saka).

Selain itu juga motif adu mancung, serta motif aros yang terdiri atas aros awi gede, kembang saka, kembang cikur, dan aros anggeus.

Saat ini, harga kain tenun Baduy di tingkat perajin mulai Rp 130.000 sampai Rp1,2 juta per potong dan tergantung ukuran.

"Kami optimistis melalui pembinaan itu kain tenun Badui menembus pasar domestik dan mancanegara," ujarnya.

Baca juga: Ini cara Lebak tingkatkan IKM batik, tenun Badui hingga gula semut
Baca juga: Wisatawan domestik kian terpikat kain tenun Badui

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel