Usai Beri Kesaksian, Susi Menangis Dipelukan Putri Candrawathi

Merdeka.com - Merdeka.com - Asisten rumah tangga (ART) Susi terlihat menangis dipelukan Putri Candrawathi dan Ferdy Sambo usai memberikan keterangan sebagai sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan pembunuhan berencana, Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Momen Susi yang terlihat sedih itu terlihat ketika Majelis Hakim memutuskan untuk menunda sidang untuk rehat istirahat sekitar pukul 18.00 Wib, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Selasa (8/11).

Di mana saat hendak meninggalkan ruangan, Susi menyempatkan menyapa kedua mantan majikannya tersebut. Ketika beranjak dari kursi saksi, Susi terlihat bergerak pertama menghampiri Putri yang berada di meja kursi terdakwa.

Terlihat mereka membicarakan sesuatu sambil memeluk tubuh Susi. Dengan tangan saling memeluk ke tubuh masing-masing, terlihat baik Putri maupun Susi saling berbalas usapan seraya saling menguatkan satu sama lainnya.

Tak berselang lama, Susi saat berjalan ke pintu keluar ruang sidang sambil menyeka air mata dengan tangannya juga turut menyapa Ferdy Sambo dengan berbalas pelukan dari mantan Kadiv Propam tersebut.

Dipelukan Ferdy Sambo, terlihat Putri kembali menundukan kepalanya tepat di dada Sambo, seraya mengucapkan sesuatu kepada dia untuk selanjutnya bergerak meninggalkan ruang sidang.

Kejadian itu terjadi saat Susi diperiksa bersamaan dengan dua security rumah Sambo, Damianus Laba Kobam/Damson, Alfonsius Dua Lurang, lalu ART Kodir, dan Marjuki Satpam Komplek Rumah Dinas Sambo.

Permintaan Maaf Sambo dan Putri

Terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi kompak mengucapkan permintaan maaf saat hadir dalam persidangan perkara pembunuhan berencana Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Kali ini permintaan maaf Sambo dan Putri tertuju kepada para asisten rumah tangga (ART) dan para ajudan (ADC) atas perkara hukum yang saat ini tengah dihadapi keluarga tersebut.

"Saya ingin sampaikan permohonan maaf kepada mereka," kata Sambo saat diberikan kesempatan menanggapi keterangan saksi sidang di PN Jakarta Selatan, Selasa (8/11).

Bahkan, Mantan Kadiv Propam itu pun telah menganggap para ajudan yang mengawalnya seperti anak-anaknya sendiri. Termasuk juga kepada salah satu ajudan bernama Yogi yang harus membatalkan rencana pernikahannya, karena harus menjalani perkara hukum ini.

"Karena saya sudah menganggap mereka sebagai anak-anak saya, karena ada peristiwa ini mereka harus diproses dan bahkan si Yogi harus membatalkan pernikahan," kata dia.

"Saya sampaikan permintaan maaf kepada anak-anak saya ini. Supaya mereka tahu peristiwa yang mereka hadapi," tambah Sambo.

Senada dengan Sambo, Putri juga turut menyampaikan permintaan maaf kepada para ajudan dan ART atas perkara ini. Dia pun lantas mendoakan kepada para ajudan dan ART untuk tetap sukses dikemudian hari.

"Saya harus dapat melalui semua ini. saya berdoa kepada adek-adek sekalian supaya kedepan sukses dan doa terbaik dari saya," tutur Putri.

Dakwaan Pembunuhan Berencana

Dalam perkara ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah mendakwa total lima tersangka yakni, Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer alias Bharada E, Ricky Rizal alias Bripka RR, dan Kuat Maruf.

Mereka didakwa turut secara bersama-sama terlibat dengan perkara pembunuhan berencana bersama-sama untuk merencanakan penembakan pada 8 Juli 2022 di rumah dinas Komplek Polri Duren Tiga No. 46, Jakarta Selatan.

"Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain," ujar jaksa saat dalam surat dakwaan.

Atas perbuatannya, kelima terdakwa didakwa sebagaimana terancam Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP yang menjerat dengan hukuman maksimal mencapai hukuman mati.

Sedangkan hanya terdakwa Ferdy Sambo yang turut didakwa secara kumulatif atas perkara dugaan obstruction of justice (OOJ) untuk menghilangkan jejak pembunuhan berencana.

Atas hal tersebut, mereka didakwa melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 dan/atau Pasal 48 ayat (1) juncto Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 221 ayat (1) ke 2 dan 233 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dan/atau Pasal 56 KUHP.

"Timbul niat untuk menutupi fakta kejadian sebenarnya dan berupaya untuk mengaburkan tindak pidana yang telah terjadi," sebut Jaksa. [fik]