Usai Brigadir J Ditembak, Putri Candrawathi Pulang ke Saguling Sambil Menangis

Merdeka.com - Merdeka.com - Asisten rumah tangga (ART) sekaligus security rumah pribadi Ferdy Sambo, Damianus Laba Kobam alias Damson menyebut kalau dirinya sempat diminta tolong untuk menjaga oleh Putri Candrawathi di rumah Saguling, Duren Tiga. Kala itu, Putri tiba di rumah dalam keadaan menangis usai Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J dieksekusi di rumah dinas.

"Kemudian jam berapa saudara Ricky datang dengan terdakwa Putri?" tanya ketua majelis hakim Wahyu Iman Santosa pada Damson.

Dia menjadi saksi untuk terdakwa Bripka Ricky Rizal dan Kuat Ma'ruf di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Rabu (9/11).

"Sudah mau Magrib Yang Mulia," jawab Damson.

"Diantar cuma berdua?" tanya lagi Hakim Wahyu.

"Siap Yang Mulia," jawab Damson.

Damson lalu bercerita Putri langsung bergegas menuju kamar pribadinya. Sambil menangis, Putri meminta Damson untuk berjaga dan tidak jauh-jauh dari kamar.

"Terus?" tanya hakim Wahyu.

"Terus ibu turun dari mobil, terus ibu bilang Damson kamu di sini saja jagain ibu, posisi ibu lagi nangis Yang Mulia, terus saya tutup pintu kamar," ucap Damson.

Momen Putri kembali ke rumah Saguling setelah insiden penembakan Brigadir J juga dibenarkan ART Susi. Dia mengaku sempat dilarang oleh terdakwa Ricky Rizal alias Bripka RR ketika hendak berangkat ke rumah dinas Komplek Perumahan Polri, Duren Tiga dari rumah pribadi jalan Saguling, Jakarta Selatan.

"Setahu saya cuman ibu duluan, ibu naik ke lift terus saya. Selebihnya saya tidak tahu. Karena saya langsung ke kamar untuk beres beres barang-barang saya. Terus saya mandi terus masuk kamar istirahat terus ketiduran," kata Susi saat sidang di PN Jakarta Selatan, Rabu (9/11).

Ketika ketiduran, Susi mengaku jika dirinya sempat dibangunkan mantan ajudan Daden Miftahul Haq agar menyusul Putri ke rumah dinas Komplek Perumahan Polri, Duren Tiga.

"Bi Susi, Bi Susi mana? Gitu dengan suara kencang. Terus saya bilang apa om saya di kamar. Terus, Bi disuruh nyusul ibu ke 46. Terus saya bilang ngapain? Isoman, terus yaudah aku beres-beres dulu," kata Susi.

Setelah bersiap Daden, kata Susi, dia disuruh berangkat bersama Damson sambil membawa perbekalan makanan.

"Terus saya sama siapa om? Sama Om Damson, sekalian nasi boks mohon dibawa ya Bi, iya saya bilang. Terus saya mau jalan, sama Om Damson udah bawa nasi boks juga," ujarnya.

Ketika hendak berangkat, Susi mengaku bertemu dengan Bripka RR. RR kemudian melarang Susi pergi ke rumah dinas dengan alasan Putri sudah dalam perjalanan kembali mengarah ke rumah Saguling. Susi kemudian diminta masuk kamar.

"Terus nggak lama kelamaan Ibu datang sama Om Ricky. Terus saya nggak jadi nyusul karena Om Ricky bilang udah nggak usah nyusul, Ibu udah pulang. Terus saya ikuti Ibu dari belakang, sambil Bu maaf tasnya mau dibawain nggak?" kata Susi.

"Terus Ibu, jangan Bi Susi ke kamar aja," lanjut Susi.

"Jadi saudara Ricky yang menyampaikan kepada saudara tidak usah ikut ke Duren Tiga?" tanya hakim.

"Siap. Karena Ibu sudah balik," jawab Susi kembali.

Momen yang diceritakan Damson dan Susi, merupakan kejadian setelah insiden berdarah penembakan Brigadir J yang terjadi di rumah dinas Komplek Perumahan Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Dakwaan Pembunuhan Berencana

Dalam perkara ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah mendakwa total lima tersangka yakni, Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer alias Bharada E, Ricky Rizal alias Bripka RR, dan Kuat Maruf.

Mereka didakwa turut secara bersama-sama terlibat dengan perkara pembunuhan berencana bersama-sama untuk merencanakan penembakan pada 8 Juli 2022 di rumah dinas Komplek Polri Duren Tiga No. 46, Jakarta Selatan.

"Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan, dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain," ujar jaksa saat dalam surat dakwaan.

Atas perbuatannya, kelima terdakwa didakwa sebagaimana terancam Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP juncto Pasal 55 KUHP yang menjerat dengan hukuman maksimal mencapai hukuman mati.

Sedangkan hanya terdakwa Ferdy Sambo yang turut didakwa secara kumulatif atas perkara dugaan obstruction of justice (OOJ) untuk menghilangkan jejak pembunuhan berencana.

Atas hal tersebut, mereka didakwa melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 dan/atau Pasal 48 ayat (1) juncto Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 221 ayat (1) ke 2 dan 233 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dan/atau Pasal 56 KUHP.

"Timbul niat untuk menutupi fakta kejadian sebenarnya dan berupaya untuk mengaburkan tindak pidana yang telah terjadi," sebut Jaksa. [lia]