Usai Vaksin COVID-19, Remaja Terserang Peradangan Jantung

·Bacaan 2 menit

VIVA – India memulai fase ketiga vaksinasi pada 1 Mei, memungkinkan semua warga negara berusia 18 tahun ke atas mendapatkan vaksin COVID-19. Namun, efek yang ditimbulkan nyatanya cukup fatal yakni miokarditis.

Di Amerika Serikat, FDA pada awal bulan ini telah menyetujui vaksin Pfizer dan mRNA COVID-19 dari BioNTech untuk anak-anak berusia antara 12 dan 15 tahun dengan penggunaan darurat. Vaksin mRNA lain dari Moderna juga disetujui untuk digunakan pada individu berusia 18 tahun ke atas.

Awal bulan ini, Moderna mengumumkan, vaksin COVID-19-nya 96 persen efektif untuk remaja usia 12-17 tahun dan tidak memiliki masalah keamanan yang serius. Faktanya berbeda, sebab kelompok penasihat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS telah melaporkan kasus miokarditis, peradangan otot jantung, pada beberapa remaja dan dewasa muda yang menerima vaksin mRNA COVID-19.

Dalam sebuah pernyataan tertanggal 17 Mei, Komite Penasihat CDC untuk Praktik Imunisasi mengatakan, beberapa remaja dan dewasa muda, terutama laki-laki, mengalami miokarditis setelah mendapatkan vaksinasi COVID-19. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai virus, dan kasus biasanya terjadi dalam empat hari setelah menerima vaksin mRNA.

Namun, kelompok penasihat CDC tidak menyebutkan berapa banyak orang yang mengembangkan miokarditis atau menentukan vaksin mana yang menyebabkan radang jantung. Mereka mengatakan bahwa kondisi tersebut seringkali hilang tanpa komplikasi. Meski begitu, anggota komite vaksinasi merasa bahwa penyedia layanan kesehatan harus diberi tahu tentang potensi kejadian buruk ini dan merekomendasikan studi lebih lanjut tentang kondisi langka tersebut.

Apakah Terjadinya Miokarditis Berhubungan Dengan Vaksin COVID-19?

Dr Amesh Adalja, sarjana senior di Johns Hopkins Center for Health Security, menunjukkan vaksin diketahui menyebabkan miokarditis, tetapi menekankan perlunya mempelajari apakah itu benar-benar terkait dengan vaksinasi serta untuk melihat risikonya dan rasio keuntungan. Dia, bagaimanapun, percaya manfaat akan lebih besar daripada risiko yang sangat rendah ini.

Dapat disebutkan, Kementerian Kesehatan Israel pada April juga mengatakan sedang menyelidiki laporan kasus peradangan jantung pada beberapa orang yang telah menerima vaksin Pfizer, sebagian besar di antara orang-orang yang berusia hingga 30 tahun. Namun belum mencapai kesimpulan apa pun.

Pada saat itu, Pfizer juga mengatakan, mereka tidak menemukan lebih banyak kasus dari kondisi tersebut daripada yang diharapkan pada populasi umum. Juga, hubungan sebab akibat ke vaksin belum ditetapkan, kata perusahaan itu. CDC juga mengatakan tidak melihat hubungan antara miokarditis dan vaksin mRNA COVID-19.

Adapun, Miokarditis atau peradangan pada otot jantung dapat menurunkan kemampuan jantung untuk memompa dan menjalankan fungsinya secara optimal, yang akhirnya berujung pada serangan jantung.