Usia Pesawat Dinilai Bukan Penyebab Utama Kecelakaan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat penerbangan Marsekal Chappy Hakim mengatakan usia pesawat terbang tidak ada korelasinya dengan terjadinya kecelakaan, melainkan kelayakan kondisi pesawat.

“Pada setiap terjadinya kecelakaan pesawat terbang selalu saja muncul pertanyaan yang spontan tentang apa yang menjadi penyebab kecelakaan,” kata Chappy kepada Liputan6.com, Senin (11/1/2021).

Spekulasi biasanya berkisar tentang pesawat terbang yang sudah tua usianya, kemudian faktor cuaca buruk dan mengenai kemungkinan kerusakan mesin yang membuat pesawat jatuh.

Kata Chappy, usia pesawat terbang tidak ada korelasinya dengan terjadinya kecelakaan. Hal ini karena kondisi pesawat yang diperkenankan untuk terbang sudah melalui sekian banyak prosedur pemeriksaan dalam persiapannya.

“Dengan demikian yang ada bukan pesawat tua atau tidak tua akan tetapi pesawat yang laik terbang atau tidak. Cuaca buruk dapat dihindari, antara lain dalam perencanaan dapat dilihat terlebih dahulu tentang ramalan cuaca misalnya,” katanya.

Selain itu, pesawat terbang juga dilengkapi dengan radar yang dapat mendeteksi kondisi cuaca yang akan dilalui, apakah berbahaya atau tidak, sehingga dapat dihindari. Mengenai terjadinya kesalahan teknis, bisa saja terjadi berhubungan dengan siklus pemeliharaan pesawat atau kondisi lain yang tidak terduga sebelumnya.

Adapun dengan insiden kecelakaan yang dialami pesawat Sriwijaya Air Flight SJ 182 pada Sabtu 9 Januari 2021 kemarin, Chappy mengatakan, semua tidak akan pernah mengetahui tentang penyebab terjadinya kecelakaan itu, sampai dengan KNKT menyelesaikan proses investigasi yang dilakukannya.

“Biasanya KNKT akan segera mengumumkan hasil penyelidikan dalam 2 atau 3 tahap, minimal Preliminary Report atau hasil awal investigasi akan diumumkan ke publik,” ujarnya.

Final Report KNKT

Petugas KPLP dan Basarnas memeriksa barang temuan yang diduga serpihan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di Dermaga JICT 2, Jakarta, Minggu (10/1/2021). Sriwijaya Air SJ 182 hilang kontak empat menit usai lepas landas dari Bandara Soetta. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Petugas KPLP dan Basarnas memeriksa barang temuan yang diduga serpihan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di Dermaga JICT 2, Jakarta, Minggu (10/1/2021). Sriwijaya Air SJ 182 hilang kontak empat menit usai lepas landas dari Bandara Soetta. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Kemudian setelah selesai penyelidikan oleh KNKT akan dikeluarkan Final Report yang merupakan hasil akhir dari proses investigasi kecelakaan. Hasil final ini akan diumumkan dan pada format tertentu akan dikirim kepada pihak-pihak yang berkait.

“Tujuan utama dari dilakukannya penyelidikan penyebab kecelakaan adalah agar kecelakaan serupa tidak akan terjadi lagi dimasa datang,” katanya.

KNKT akan bekerja mulai dari mengumpulkan data awal sampai dengan membaca Black Box serta melakukan analisis mendalam dan menyeluruh dengan para investigator professional, para Pilot Senior, para teknisi, perwakilan pabrik, operator, serta para ahli lain yang diperlukan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: