USU Siap Jalankan Perkuliahan Hybrid, Gabungan Tatap Muka dan Daring

Lis Yuliawati, Putra Nasution (Medan)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Universitas Sumatera Utara (USU) tengah mempersiapkan diri untuk mengaktifkan kembali perkuliahan secara hybrid, yakni dengan menggabungkan antara perkuliahan tatap muka dengan perkuliahan daring. Rencananya akan dilaksanakan pada Agustus-September 2021.

“Kapasitas kelas (untuk kuliah tatap muka) yang kita miliki untuk melakukan kegiatan ini sebanyak 50 persen dari jumlah mahasiswa keseluruhan," ujar Rektor USU, Dr Muryanto Amin kepada wartawan di Kampus USU, Selasa, 4 Mei 2021.

Untuk mendukung protokol kesehatan, Muryanto mengatakan pihaknya juga akan membangun infrastruktur yang dibutuhkan, seperti ruangan kelas yang sesuai, area dan fasilitas mencuci tangan serta menyediakan masker, hand sanitizer dan lain-lain. "Semua fasilitas akan didata kembali dan dibuat rambu-rambu untuk larangan berkumpul,” tutur Muryanto.

Selain itu, Muryanto mengimbau kepada para dosen juga diharuskan untuk melaporkan masalah kesehatannya secara periodik. USU sudah menunjuk tim satgas COVID-19 yang nantinya akan bertindak untuk mengawasi pelaksanaan tatap muka secara hybrid.

Menurut rektor, sistem hybrid itu juga nantinya akan digunakan untuk kebutuhan kampus merdeka. “Sistem hybrid ini merupakan salah satu kekuatan dalam implementasi kampus merdeka yang sedang disusun peraturan rektornya. Ini akan memudahkan para mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan perkuliahan kampus merdeka sehingga bisa memilih untuk mengambil kuliah daring di universitas lain misalnya,” turut Muryanto.

Muryanto menjelaskan, pandemi COVID-19 ini memberikan banyak peluang dan manfaat bagi para dosen dan mahasiswa, untuk mempelajari berbagai platform digital yang mendukung perkuliahan.

“Mereka jadi dipaksa untuk belajar sehingga dapat menggunakannya. Padahal sebelum pandemi, disuruh-suruh untuk mempelajari platform digital susahnya minta ampun. Sekarang karena kebutuhan, mau tidak mau jadi harus belajar,” kata Muryanto.

Ia juga menyatakan, pandemi ini juga membawa berkah bagi tiap orang untuk belajar memelihara kesehatannya. Saat ini orang-orang mulai terbiasa untuk mencuci tangan dan menggunakan hand sanitizer.

“Meskipun begitu, pandemi ini juga membawa dampak psikologis bagi manusia karena jarang bertatap muka. Tidak bertemu orang, tidak bersosialisasi dan tidak bisa menuangkan ide-idenya secara langsung kepada orang lain itu juga akan membawa gangguan emosional. Ini kelemahannya," kata Muryanto.

Muryanto berjanji akan melakukan penyesuaian-penyesuaian untuk perkuliahan sepanjang pandemi yang diperkirakan akan berlangsung hingga 2025.

"Maka dari kelebihan dan kelemahan tersebut kita bisa ambil jalan tengahnya, tetap hybrid 50:50, serta menyiapkan dan memberdayakan ruang konsultasi psikologi untuk memberikan layanan bagi dosen dan mahasiswa,” tutur Muryanto.