Usulan Tiket Naik Candi Borobudur Rp750.000 Dikhawatirkan Pangkas Jumlah Wisatawan

Merdeka.com - Merdeka.com - Wakil Ketua Umum Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), Budijanto Ardiansyah khawatir kunjungan wisatawan ke Candi Borobudur akan berkurang, dengan adanya usulan kenaikan tarif tiket untuk naik Candi Borobudur untuk wisatawan domestik menjadi Rp750.000 dan USD100 untuk turis asing.

Sebab, tarif ini melonjak drastis dari yang tadinya Rp 25 ribu per orang untuk pengunjung anak usia 3-10 tahun, dan Rp 50 ribu per orang untuk dewasa. Sementara harga tiket untuk wisatawan mancanegara USD 12 per orang untuk anak-anak, dan USD 25 untuk dewasa.

"Dengan situasi saat ini dimana baru menuju ke endemi pasti akan turun drastis. After effect pasti akan terjadinya penurunan kunjungan ke Borobudur," ujar dia kepada Liputan6.com, Minggu (5/6).

Imbasnya, minat pelaku usaha industri pariwisata untuk membuka jasa travel ke sana pun semakin menyusut. Budijanto mengatakan, bukan tidak mungkin Candi Borobudur nantinya bakal hilang dalam list sebagai salah satu tujuan destinasi wisata.

"Ini juga akan mematahkan semangat wisatawan yg akan berkunjung ke Borobudur. Para tour operator bukan tidak mungkin akan menghilangkan kunjungan ke Borobudur, karena akan membuat harga paket menjadi sangat tinggi," tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan melalui laman instagramnya sempat menulis, biaya masuk Candi Borobudur seharga Rp 750 ribu hanya berlaku untuk orang dewasa. Sementara para pelajar tetap dikenakan biaya Rp 5.000 saja.

Penaikan harga tiket itu diiringi dengan pembatasan jumlah pengunjung Candi Borobudur menjadi hanya 1.200 orang per hari. Kebijakan itu diambil demi menjaga kelestarian kekayaan sejarah dan budaya Busantara.

Seluruh turis nantinya juga diharuskan menggunakan jasa pemandu tur dari warga lokal di sekitar kawasan Borobudur. Hal itu dilakukan demi menyerap lapangan kerja sekaligus menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap situs candi Buddha terbesar di dunia itu.

"Sehingga rasa tanggung jawab untuk merawat dan melestarikan salah satu situs sejarah nusantara ini bisa terus tumbuh dalam sanubari generasi muda di masa mendatang," papar Luhut.

Reporter: Maulandy Rizki Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com [azz]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel