Utang PLN Capai Rp500 Triliun, Faisal Basri: Dipakai Investasi

·Bacaan 2 menit

VIVAUtang BUMN listrik PLN jadi sorotan publik beberapa waktu terakhir. Jumlahnya yang disebut Menteri BUMN Erick Thohir capai Rp500 triliun menimbulkan pertanyaan untuk apa peruntukan utang tersebut.

Merespons hal tersebut Ekonom senior Faisal Basri menjabarkan analisanya mengenai hal ini. Dia menilai, PLN mengelola utang dengan baik, sebab peningkatan utang itu jauh di bawah investasi dan nilai aset BUMN itu.

“Utang PLN tidak dipakai untuk foya-foya. Hampir semua dipakai untuk investasi. Hanya sebagian kecil untuk menjaga cashflow (arus kas),” ujarnya di Jakarta, dikutip Selasa, 15 Juni 2021.

Dia menjelaskan, PLN mencatatkan penambahan utang Rp 199 triliun pada periode 2015-2020. Sebaliknya, nilai investasi PLN pada periode yang sama mencapai Rp448 triliun, artinya lebih banyak dibanding keseluruhan penambahan utang PLN di periode 2015-2020.

Menurutnya, investasi yang dilakukan antara lain penambahan aset berupa pembangkit total 10.000 megawatt, transmisi sepanjang 23.000 kilometer sirkuit, dan gardu induk total 84.000 MvA.

Baca juga: Menperin: Potensi Pasar Produk Dalam Negeri Capai Rp607 Triliun

Manfaat investasi PLN itu pun lanjutnya, juga dirasakan dalam bentuk peningkatan rasio elektrifikasi atau pemerataan ketersediaan listrik bagi masyarakat. Peningkatannya dari 88,3 persen menjadi 99,2 persen, dan mencakup hampir seluruh wilayah Indonesia.

Sementara itu, dari sisi aset, dia mengatakan, Jumlah utang itu jauh lebih kecil. Bahkan PLN merupakan BUMN yang memiliki aset terbesar saat ini.

“Sampai April 2021 (Aset) mencapai Rp1.599,5 triliun. Harus kita jaga bersama-sama. Tidak ada BUMN lain dengan aset sebesar ini,” kata Faisal.

Lebih lanjut dia menjabarkan, investasi PLN bisa lebih besar dari utang karena sumber dananya tidak hanya pinjaman. Sebagian investasi PLN didanai dari kas internal dan penambahan modal. Investasi dari kas internal dimungkinkan karena PLN masih mencatatkan keuntungan.

Selain itu, pendapatan PLN bisa naik karena jumlah pelanggan memang bertambah dari 61 juta menjadi 79 juta. Meski demikian, peningkatan pelanggan juga menaikkan biaya produksi, karena semakin banyak pelanggan harus dilayani.

“Penyambungan kabel, penyediaan energi primer, semua butuh biaya,” kata dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel