Utusan senior AS di Suriah soroti penarikan tentara

Washington (AP) - Seorang diplomat senior telah menulis penilaian yang sangat kritis mengenai tindakan Trump secara mendadak menarik tentara AS dari bagian timur-laut Suriah bulan lalu, keputusan yang melicinkan jalan buat serangan oleh pasukan sekutu AS di daerah tersebut, kata beberapa pejabat pada Kamis (7/11).

Di dalam satu memo internal, William Roebuck, diplomat senior Amerika di Suriah Utara, mengecam pemerintah Trump karena memberi tugas agar tidak bertindak lebih lanjut untuk menghalangi serbuan Turki atau melindungi Suku Kurdi, yang berperang berdampingan dengan pasukan AS dalam perang melawan grup IS, kata dua pejabat AS yang mengetahui masalah itu.

Salah seorang pejabat menggambarkan memo tersebut, yang diperoleh dan pertama kali diungkap oleh The New York Times, sebagai "panjang dan keras". Para pejabat itu tak berwenang untuk masalah dokumen internal secara terbuka dan berbicara tanpa mau disebutkan jatidiri mereka.

Memo Roebuck menyoroti bagaimana keputusan Trump untuk menarik tentara Amerika sangat memecah-belah, bahkan di dalam pemerintahnya sendiri. Tindakan itu dikecam banyak pihak oleh anggota Demokrat dan Republik sebagai meninggalkan sekutu penting dalam perang melawan IS.

Turki menyebu beberapa hari setelah Presiden Donald Trump memerintahkan sedikit pasukan khusus AS di daerah tersebut agar pergi.

Di dalam memo tersebut, yang dikutip oleh The New York Times, Roebuck mengatakan tak mungkin mengetahui apakah tekanan lebih besar atas Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan akan menghentikan operasi itu.

"Itu adalah masalah sulit, dan jawabannya barangkali tidak. Tapi kami takan tahu sebab kami tidak berusaha," kata The New York Times, yang mengutip surat Roebuck.

Ia mengangkat keprihatinan mengenai kemungkinan milisi dukungan Turki yang ikut dalam operasi itu tidak disiplin dan dapat melakukan kekejaman yang bisa menjadi kejahatan perang.

Roebuck, wakil senior Utusan Khusus AS untuk Suriah James Jeffrey mengatakan penarikan pasukan AS sangat sangat merusak, jika bukan tak bisa diperbaiki, kepercayaan Suku Kurdi. Memo tersebut dikirim kepada Jeffrey dan sejumlah pejabat lain yang menangani kebijakan mengenai Suriah.

Jeffrey berada di Ankara, Ibu Kota Turki, untuk pembahasan dengan para pejabat Turki mengenai pelaksanaan kesepakatan 17 Oktober yang dirundingkan oleh Wakil Presdien AS Mike Pence, yang menciptakan zona penyangga di sepanjang wilayah perbatasan Turki-Suriah. Pada Rabu (6/11), seorang pejabat senior AS mengatakan Jeffrey mengangkat keprihatinan mengenai dugaan kejahatan perang.

Penarikan yang diperintahkan Trump dari bagian timur-laut telah menjadi sesuatu yang menimbulkan kemarahan dengan penggelaran pasukan untuk melindungi ladang minyak di daerah yang dikuasai Suku Kurdi, yang sebagian rentan terhadap serangan oleh IS, tulis Roebuck di dalam memo tersebut. Tapi ia juga mengatakan penggelaran itu akan bermain di dalam kepercayaan lama di Timur Tengah bahwa AS hanya tertarik pada wilayah tersebut karena minyaknya.

Departemen Luar Negeri AS tak bersedia mengkonfirmasi atau membantah keberadaan memo Roebuck, tapi memberikan pernyataan panjang yang membela tindakan pemerintah yang secara diam-diam mengakui tak ada perdebatan interna yang meyakinkan mengenai kebijakan Suriah.

"Tak seorang pun dapat membantah bahwa situasi di Suriah sangat rumit dan tak ada penyelesaian yang mudah dan tak ada pilihan yang mudah," kata wanita Juru Bicara Morgan Ortagus. "Pekerjaan pemerintah ini ialah melakukan apa yang terbaik buat keamanan nasional AS dan rakyat Amerika."