UU Cipta Kerja Diharapkan Bisa Turunkan ICOR RI Jadi di Bawah 4 Persen

Daurina Lestari, Arrijal Rachman
·Bacaan 1 menit

VIVA – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memperkirakan, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja akan bisa menurunkan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) ke level rendah.

ICOR didefinisikan sebagai parameter ekonomi makro yang menggambarkan rasio investasi kapital terhadap hasil yang diperoleh dengan menggunakan investasi tersebut. Semakin tinggi nilainya semakin tidak efisien suatu negara untuk investasi.

Deputi Pengembangan Iklim Penanaman Modal BKPM, Yuliot, mengatakan, dengan Omnibus Law UU Cipta Kerja, maka berbagai aturan yang tumpang tindih akan disatukan, sehingga ICOR Indonesia nantinya bisa di bawah 4 persen.

"Sehingga terselaraskan antara pusat dan daerah dan mencegah praktik korupsi, dan penyelewengan regulasi, buka lapangan kerja seluas luasnya," ungkap dia, Senin 9 November 2020.

Baca juga: BKPM Targetkan Realisasi Investasi hingga 2024 Tembus Rp4.983 Triliun

Saat ini, dia mengatakan ICOR Indonesia terbilang tinggi dibandingkan negara-negara tetangga di kawasan ASEAN. ICOR Indonesia kembali meningkat dari sebelumnya 5,3 persen menjadi 6,8 persen.

"Tahun 1986-1990-an ICOR justru di 3,9 persen dan saat tahun 1996-2000 paling tinggi 9,6 persen. Dengan berbagai kebijakan ekonomi yang dilakukan justru ada penurunan ICOR ke 5,4 persen tapi akhir akhir ini meningkat 6,8 persen," tutur dia.

Dia menjelaskan, pesaing utama Indonesia di ASEAN terkait ICOR adalah Vietnam, karena mereka mampu mencapai angka rendah, yakni 3,7 persen. Kemudian Filipina 4,1 persen dan Malaysia 5,4 persen.

"Pesaing kita ICOR dengan Vietnam, di sana lebih efisien. Tapi dengan Undang-Undang Cipta Kerja ini perbaiki daya saing ekonomi kita," ungkap Yuliot. (ren)