Vaksin BUMN diharapkan tingkatkan pemerataan distribusi

Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane mengatakan vaksin BUMN yang sekarang memasuki uji klinis fase ketiga akan meningkatkan pemerataan distribusi vaksin.

"Harapannya dengan adanya vaksin BUMN nantinya akses terhadap vaksin dapat terus meningkat dan sampai pada semua sasaran, merata sampai ke ujung Indonesia," katanya ketika dihubungi di Jakarta, Jumat.

Ia mengharapkan kapasitas produksi vaksin BUMN yang cukup besar dapat mendukung peningkatan capaian vaksinasi COVID-19, khususnya untuk vaksin dosis penguat dan untuk anak-anak.

“Kami mengucapkan selamat karena sudah memasuki uji klinis fase ketiga, semoga dapat mendukung peningkatan cakupan vaksinasi, khususnya untuk di luar Jawa Bali,” katanya.

Baca juga: Erick Thohir minta Vaksin BUMN bisa sokong kebutuhan dunia

Dia mengingatkan perlunya penguatan peran puskesmas di daerah-daerah untuk mempercepat peningkatan capaian vaksinasi.

“Puskesmas perlu makin diperkuat, terlebih lagi selama ini puskesmas telah berpengalaman mengejar target vaksinasi, khususnya vaksinasi dasar untuk anak. Dengan penguatan puskesmas diharapkan cakupan vaksinasi akan makin meningkat,” katanya.

Dia juga mengatakan masih perlunya mengintensifkan praktik 3T di daerah-daerah untuk mempercepat penanganan pandemi COVID-19.

"Praktik 3T ditambah disiplin penerapan protokol kesehatan dan juga vaksinasi merupakan sejumlah upaya yang diperlukan untuk mempercepat penanganan pandemi COVID-19," katanya.

Dia menjelaskan praktik 3T yang dimaksud adalah pemeriksaan (testing), pelacakan (tracing) dan pengobatan (treatment).

Baca juga: Vaksin BUMN masuk fase akhir uji klinis

Menurutnya, peningkatan kapasitas 3T terutama di level mikro harus terus diintensifkan guna menekan risiko penularan dan penyebaran COVID-19.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mengeluarkan izin untuk pengembangan uji klinik tahap akhir vaksin BUMN yang merupakan kolaborasi PT Bio Farma, Baylor College of Medicine, dan Eijkman.

"Pengembangan vaksin BUMN yang pertama di Indonesia merupakan karya anak bangsa dalam pengembangan praklinik hingga fase terakhir atau ketiga ini. Kami sudah beri izin dan sudah memenuhi tahapan cara uji klinik yang baik," kata Kepala BPOM RI Penny K. Lukito.

Penny mengatakan BPOM telah mendampingi pengembangan vaksin BUMN dari mulai fasilitas produksi hingga penggunaan vaksin yang sudah memenuhi standar prosedur Good Manufacturing Practices (GMP) atau cara produksi yang baik menurut aturan.

"Semoga bisa segera selesai dan diberikan Izin Edar Darurat (Emergency Use Authorization/EUA) untuk hasil terbaik dan diproduksi komersil dan jadi vaksin aman, bermutu, efektif, berkhasiat dan berdaya saing," ujarnya.

Baca juga: Pemerintah resmi melakukan uji klinis tahap III Vaksin BUMN
Baca juga: Vaksin BUMN khusus untuk anak dan 'booster'
Baca juga: Kemenkes masih punya Rp1,3 triliun uang belanja vaksin dalam negeri

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel