Vaksin Corona Pfizer Lagi Populer, Indonesia Utamakan Sinovac

Daurina Lestari, Eduward Ambarita
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pemerintah memastikan untuk saat ini masih memprioritaskan vaksin corona yang tengah dikembangkan oleh Sinovac, perusahaan farmasi asal China, meski belakangan, vaksin milik perusahaan Jerman BioNTech-Pfizer tengah populer dan dipesan oleh berbagai negara. Namun kemungkinan menjalin kerja sama penelitian dengan mereka tetap terbuka.

"Yang pasti ya orientasi pertamanya Sinovac dan Sinopharm ya. Tidak menutup kemungkinan (kerja sama)," kata Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 12 November 2020.

Kata Moeldoko, vaksin dari Sinovac masih sesuai dengan kondisi di Indonesia. Berbeda dengan BionTech yang Pfzier, perusahaan asal Amerika Serikat, vaksin buatan mereka hanya bertahan dengan suhu udara ultra dingin.

"Sehingga pada nantinya harus distribusi dari satu wilayah ke wilayah lain akan menghadapi masalah. Persoalan teknisnya di situ," kata dia.

Baca juga: 3 Lokasi Jadi Tempat Penularan COVID-19 Paling Banyak

Mantan Panglima TNI itu bilang, kehadiran BioNTEch - Pfizer, adalah kabar baik bagi perkembangan penelitian vaksin yang sudah memasuki uji klinis tahap 3 dan diklaim efektif penggunaannya sebesar 90 persen. Indonesia sendiri, tutur Moeldoko, pemerintah juga melakukan hal serupa, yakni pengembangan vaksin merah putih yang dilakukan konsorsium sejumlah lembaga.

"Eijkman juga mengembangkan vaksin Merah Putih, mungkin ada lagi pabrik vaksin di Indonesia mungkin semuanya akan pasti jadi pertimbangan. Pertimbangannya adalah efektivitas, yang kedua juga pertimbangan harga, mungkin pertimbangan teknis, persediaan, dan seterusnya," ujarnya.

Sebagai informasi, perusahaan pembuat obat Pfizer dan BioNTech mengungkapkan vaksin eksperimental yang tengah mereka kembangkan diperkirakan memiliki tingkat keefektifan hingga 90 persen, untuk mencegah virus COVID-19.

Pfizer melibatkan sekitar 44 ribu orang di enam negara, di mana separuhnya telah diberikan vaksin dan separuh lainnya diberi plasebo. Dari uji coba tersebut, tak ada dampak negatif pada relawan.

Pfizer dan BioNTech mengatakan mereka berencana untuk mengajukan permohonan persetujuan darurat ke FDA untuk menggunakan vaksin pada akhir bulan, ketika mereka akan memiliki data keamanan selama dua bulan tentang sekitar setengah dari peserta uji coba.