Vaksin COVID-19 Bikin Penis Tidak Bisa 'Berdiri', Ini Faktanya

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Marak tersiar kabar terkait dampak dari vaksinasi COVID-19 yaitu sulitnya 'ngaceng' alias penis tidak bisa berdiri pada pria. Situasi pandemi dan infeksi pada tubuh akibat virus SARS-CoV-1 itu memang erat dikaitkan dengan kesehatan reproduksi pria, namun bagaimana dengan vaksin COVID-19?

Proses vaksinasi untuk meredakan pandemi COVID-19 yang melanda sudah mulai dilakukan di berbagai tempat. Efek samping dari vaksin yang telah diedarkan pun tergolong ringan. Namun, beberapa kasus menunjukkan efek yang serius, bahkan sulit ereksi. Bagaimana menurut pakar?

Dikutip dari laman Good RX, profesor praktik farmasi di Sekolah Tinggi Farmasi dan Ilmu Kesehatan Massachusetts, Timothy Aungst, PharmD, membeberkan bahwa studi penelitian yang tersedia diterbitkan pada Juni 2020 tentang kesehatan reproduksi pria dan COVID-19 mengarah pada disfungsi ereksi.

Meski tak berkaitan langsung, namun pada dasarnya infeksi virus memang dapat meningkatkan risiko sulit ereksi tersebut. Salah satu faktornya lantaran infeksi dapat menurunkan kadar testosteron. Selain itu, virus tersebut memicu pembengkakkan pada penis sehingga pembuluh darah terganggu dan akhirnya sulit tercapai ereksi.

Terakhir, tak perlu diulang lagi bagaimana pandemi telah menyebabkan banyak orang sulit tidur, depresi, dan cemas. Mereka yang terinfeksi dan dirawat di rumah sakit bisa mengalami masalah kesehatan mental yang lebih buruk. Beban berat ini dapat berperan penting dalam aktivitas dan hasrat seksual serta meningkatkan risiko DE pada penyintas COVID-19.

Lantas, apakah vaksin COVID-19 mengakibatkan disfungsi ereksi juga?

Mengingat COVID-19 dapat menyebabkan disfungsi ereksi, ada kekhawatiran tentang vaksin yang menyebabkan DE. Saat ini, uji klinis dari vaksin Moderna dan Pfizer-BioNTech menunjukkan bahwa vaksin tersebut dapat menyebabkan rasa sakit atau bengkak di tempat Anda menerima vaksin dan efek samping seperti mual, muntah, sakit kepala, menggigil, atau demam.

Disfungsi ereksi

Namun, tidak ada produsen yang mencantumkan masalah apa pun yang terkait dengan kesehatan seksual atau disfungsi ereksi di lebih dari 70.000 pasien yang dievaluasi.

Sayangnya, peneliti juga belum memahami apakah vaksin COVID-19 memengaruhi jumlah sperma. Beberapa penelitian kecil menemukan jumlah sperma yang lebih rendah pada pria yang menderita COVID-19, tetapi kami tidak tahu apakah ini hanya sementara atau masalah jangka panjang.

Para peneliti di University of Miami sekarang memulai penelitian untuk melihat apakah vaksin dapat memengaruhi jumlah sperma atau kesuburan pria, meskipun para peneliti tidak berharap melihat masalah seperti itu.

Sejauh ini, belum ada laporan tentang vaksin Moderna dan Pfizer-BioNTech yang memengaruhi kesehatan seksual atau jumlah sperma pria. Faktanya, besar kemungkinan vaksin akan membantu kita melewati pandemi lebih cepat, menurunkan beban kesehatan mental kita secara keseluruhan, dan membantu mencegah kemungkinan masalah jangka panjang yang disebabkan oleh virus corona, termasuk disfungsi ereksi.