Vaksin COVID-19 Buatan Iran Memasuki Uji Coba Klinis pada Manusia

Daurina Lestari, Dinia Adrianjara
·Bacaan 1 menit

VIVA – Studi pertama untuk menguji keamanan dan keefektifan vaksin COVID-19 buatan Iran, dimulai pekan ini. Rencananya para relawan akan menerima suntikan, yang dikembangkan di dalam negeri.

Dilansir dari Channel News Asia, vaksin pertama buatan Iran yang akhirnya layak untuk diuji coba pada manusia, diproduksi oleh Shifa Pharmed, salah satu konglomerat farmasi milik negara yang dikenal sebagai Barekat. Dalam situs webnya, perusahaan tersebut menyebut terlibat dalam produksi antibiotik dan penisilin skala besar.

Uji klinis fase 1 ini akan melibatkan 56 sukarelawan untuk menerima dua suntikan vaksin Iran dalam dua pekan. Hasil akan diumumkan kira-kira satu bulan setelah pemberian suntikan kedua.

Kemarin, tiga orang telah menerima suntikan pertama. Sejauh ini tidak ada suntikan yang menyebabkan demam maupun efek samping pada tubuh relawan.

"Saya senang bahwa proses ilmiah ini berjalan dengan baik. Saya berharap hasilnya akan menyehatkan bagi rakyat kita," kata Putri Ketua Setad Foundation, Tayebeh Mokhber, yang menjadi relawan pertama penerima vaksin.

Baca juga: Permohonan Izin Tinggal Meningkat, Didominasi WNA asal China

Vaksin yang rencananya akan diberi nama Coviran ini, dibuat dengan virus corona yang telah dilemahkan atau dibunuh dengan bahan kimia. Ini berbeda dengan vaksin terkemuka buatan negara Barat seperti milik Pfizer dan BioNTech, yang menggunakan teknologi baru untuk menargetkan protein lonjakan virus corona menggunakan RNA.

Otoritas Iran memperkirakan vaksin itu akan memasuki pasar pada akhir musim semi 2021. Hal ini terbilang agresif, sebab umumnya metode pengujian vaksin untuk memastikan keamanan dan kemanjuran dengan uji coba massal, dapat memakan waktu bahkan hingga satu dekade.