Vaksin COVID-19 Buatan Meksiko Diperkirakan Siap Digunakan 2021

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta - Meksiko bertujuan untuk mengembangkan vaksin melawan COVID-19 yang dapat diberikan persetujuan untuk penggunaan darurat tahun ini, kata seorang pejabat senior.

Ini bisa menjadi jawaban untuk pasokan asing yang tidak dapat diandalkan untuk program vaksinasi yang lambat.

Mengutip Channel News Asia, Rabu (14/4/2021), Kepala Dewan Nasional Sains dan Teknologi (Conacyt), Maria Elena Alvarez-Buylla, mengatakan dalam konferensi pers bahwa vaksin yang sedang dikembangkan dapat diberikan persetujuan pada November atau Desember 2021.

Uji klinis dengan sukarelawan dapat dimulai bulan ini, menurut Avimex, perusahaan farmasi hewan yang memimpin pengembangan vaksin di Meksiko.

Jika jalurnya berhasil, vaksin "Patria" dapat membantu Meksiko dan negara berkembang lainnya yang telah berjuang untuk mengamankan pasokan tembakan buatan luar negeri yang diambil oleh negara-negara kaya.

Meksiko sejauh ini telah memperoleh 16,9 juta dosis vaksin untuk 126 juta populasinya, semuanya dari perusahaan asing termasuk Pfizer-BioNTech, Sinovac, AstraZeneca, CanSino dan Sputnik V, menurut data pemerintah.

Biaya untuk memperoleh vaksin Avimex akan 800 persen lebih rendah daripada vaksin asing yang diimpor, kata pemerintah.

Kasus COVID-19 di Meksiko

Para lansia di atas 60 tahun menunggu untuk menerima vaksin Covid-19 AstraZeneca di luar pusat kesehatan di wilayah terpencil Milpa Alta di Mexico City, Senin (15/2/2021). Meksiko pada Senin (15/2) mulai melakukan vaksinasi massal Covid-19 pada jutaan warga lanjut usia. (AP/Rebecca Blackwell
Para lansia di atas 60 tahun menunggu untuk menerima vaksin Covid-19 AstraZeneca di luar pusat kesehatan di wilayah terpencil Milpa Alta di Mexico City, Senin (15/2/2021). Meksiko pada Senin (15/2) mulai melakukan vaksinasi massal Covid-19 pada jutaan warga lanjut usia. (AP/Rebecca Blackwell

Meksiko telah melaporkan 2.286.133 infeksi dan 210.294 kematian akibat COVID-19, jumlah kematian tertinggi ketujuh per kepala populasi di dunia, menurut Universitas Johns Hopkins.

Pemerintah mengatakan jumlah kasus sebenarnya kemungkinan akan jauh lebih tinggi, dan data kementerian kesehatan yang terpisah menunjukkan jumlah kematian sebenarnya mungkin setidaknya 60 persen di atas angka yang dikonfirmasi.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: