Vaksin COVID-19 Buatan Pasangan Ilmuwan Keturunan Turki Berbuah Manis

Lazuardhi Utama, DW Indonesia
·Bacaan 4 menit

Hampir satu tahun lalu, tidak banyak yang mengenal pasangan suami istri Özlem Türeci dan Ugur Sahin. Setelah mendirikan perusahaan kecil di bidang bioteknologi dengan nama BioNTech pada 2008, mereka fokus pada penelitian kanker.

Namun, kemunculan pandemi Virus Corona membuat keduanya mengembangkan vaksin COVID-19. Hingga saat ini, kemampuan mereka berhasil menyelamatkan nyawa jutaan orang di seluruh dunia.

Penghargaan tertinggi Jerman

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier menganugerahkan medali Knight Commander's Cross kepada Sahin dan Türeci pada Jumat, 19 Maret 2021.

“Mereka merasa terhormat karena dapat memberikan kontribusi untuk penanggulangan pandemi Virus Corona," demikian keterangan resmi Kantor Kepresidenan Jerman pada awal Maret lalu.

The Knight Commander's Cross adalah bagian dari Order of Merit of the Federal Republic of Jerman, yang dibentuk pada 1951 oleh Theodor Heuss, Presiden Pertama Jerman Pascaperang Dunia II.

Pemberian penghargaan dimaksudkan untuk "secara nyata mengungkapkan pengakuan dan terima kasih kepada laki-laki dan perempuan yang layak baik rakyat Jerman maupun negara-negara asing."

Di antara penerima penghargaan tertinggi yang dianugerahkan Jerman, Anda akan menemukan tokoh asing terkemuka seperti Ratu Inggris, Elizabeth II, dan mantan Presiden Amerika Serikat (AS), George Walker Bush.

Mengalihkan fokus untuk menyelamatkan dunia

Menurut Kantor Kepresidenan Jerman, pasangan suami istri, Ugur Sahin dan Özlem Türeci, juga menerima penghargaan untuk "penelitian pendahulu dan telah diakui secara global" di bidang teknologi mRNA.

Terapi gen baru dalam pengembangan vaksin menggunakan sebagian kecil informasi genetik virus untuk memicu respons imun dengan memproduksi protein langsung di dalam sel manusia.

Sebelum melakukan penelitian tentang COVID-19, Sahin dan Türeci telah berusaha memanfaatkan kemampuan tubuh manusia untuk mempertahankan diri dari bakteri dan virus.

Mereka berusaha melawan kanker dengan imunoterapi yang merangsang mekanisme penyembuhan diri dan memicu "kekuatan internal" tubuh untuk menjinakkan tumor ganas.

Latar belakang Sahin dan Türeci dalam penelitian mRNA memungkinkan mereka untuk mengembangkan vaksin BioNTech bersama mitra dari AS, Pfizer dalam rentang waktu yang sangat singkat, yaitu kurang dari satu tahun, menjadikannya vaksin COVID-19 pertama, setelah persetujuan penggunaan darurat di AS dikeluarkan pada November 2020.

Pada akhir tahun lalu, Sahin memberi tahu DW bahwa dia tidak merasa sebagai "pahlawan super" dalam penelitian vaksin.

"Kami hanya dapat melakukan ini karena kami memiliki tim yang fantastis. Tim ilmuwan internasional dan staf dari 60 negara berbeda telah bekerja dengan kami selama bertahun-tahun mengenai topik ini (penelitian mRNA)," katanya.

Semangat seumur hidup

Lahir di Turki, Ugur Sahin berusia 4 tahun ketika dia dan ibunya pindah ke Koeln, Jerman, untuk tinggal bersama dengan ayahnya yang bekerja di perusahaan Ford. Setelah lulus SMA, dia belajar kedokteran di University of Cologne. "Saya tertarik dengan imunoterapi," kata Sahin, yang berusia 54 tahun.

Pada 1992, Sahin menyelesaikan sekolah kedokteran dan bekerja sebagai dokter penyakit dalam dan hematologi dan onkologi di Universitas Cologne selama beberapa tahun, sebelum pindah ke Pusat Medis Universitas Saarland.

Di sana, dia bertemu Türeci, seorang mahasiswi kedokteran dan putri seorang dokter yang datang ke Jerman dari Istanbul. Kini menjadi seorang dosen di Universitas Mainz, Özlem Türeci dianggap sebagai pelopor dalam imunoterapi kanker.

"Dipengaruhi oleh ayah saya yang bekerja sebagai dokter, saya tidak dapat membayangkan profesi lain, bahkan ketika saya masih muda," kata Türeci kepada situs online wissenschaftsjahr.de.

"Praktik ayah saya berada di rumah keluarga. Ketika kami masih kecil, kami bermain di antara pasien. Tidak ada dinding pemisah antara pekerjaan dan kehidupan di rumah kami."

Seperti ayahnya, dia ingin membantu orang. Pertama, dia berpikir untuk menjadi seorang biarawati, katanya kepada Majalah Jerman Impulse pada 2011, tetapi kemudian dia memutuskan untuk belajar kedokteran.

Türeci dan Sahin menikah pada 2002, ketika dia sudah bekerja di University Medical Center Mainz. Bahkan, pada hari pernikahan mereka, Sahin menghabiskan beberapa waktunya di laboratorium – sebelum pasangan itu pergi ke kantor catatan sipil.

Pendiri BioNTech

Pada 2001, pasangan itu meluncurkan perusahaan biofarmasi Ganymed Pharmaceuticals untuk mengembangkan obat kanker imunoterapi. Mereka menjual perusahaan pada 2016 seharga 422 juta euro (Rp 7,2 triliun).

Tujuh tahun kemudian, Sahin dan Türeci mendirikan BioNTech, sebuah perusahaan yang sebagian besar mengembangkan teknologi dan obat-obatan untuk imunoterapi kanker individual (belum ada obat yang mencapai tahap persetujuan).

Lebih dari 1.300 orang dari 60 negara saat ini bekerja di BioNTech, dan lebih dari setengahnya adalah perempuan. Andreas Kuhn, Wakil Presiden Senior RNA Biokimia dan Manufaktur BioNTech, mengatakan bahwa dia jarang menemukan seseorang yang secerdas Sahin, yang selalu "selangkah lebih maju dari orang lain."

"Kalau ada ide baru, dia sudah sampai di tahap itu dan sudah mengantisipasinya,” kata Kuhn kepada hadirin dalam acara Mustafa Award 2019. "Saya pikir itu adalah salah satu kekuatannya sehingga dia bisa membuat orang bersemangat akan suatu tujuan." (ha/ae)